Friday, November 11, 2011

Bangkai


JAM dinding di ruangan ini menunjuk pukul tujuh tepat. Belum satu orang pun terlihat. Aku berangkat terlalu pagi dari rumah. Selepas subuh, aku sudah berdiri di halte bus terdekat. Aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku. Padahal jarak rumahku dan kantor sebenarnya tak terlalu jauh. Tapi ini kota besar, dan ini hari Senin. Apa pun bisa terjadi di hari Senin. Tapi, aneh juga bila di kantor besar ini, belum satu pegawai pun hadir. 

Tapi bukan itu sebenarnya yang menggangguku. Aku mencium bau tak sedap, busuk. Tapi entah apa. Bau tak sedap itu, sebenarnya tercium sejak pertama kali aku memasuki ruangan ini. Awalnya kukira aroma tong sampah yang belum dikuras. Tapi, bau ini terlalu busuk untuk sebuah tong sampah di ruang kerja. Apakah ada yang membuang bangkai tikus atau makanan basi di dalamnya? Ah, mungkin saja ada tikus yang mati di salah satu lorong angin entah di mana, dan sialnya, tikus malang itu mati tak jauh dari meja kerjaku. 

Walaupun bau itu sangat mengganggu dan membuatku tidak nyaman, aku masih sungkan untuk bertanya. Saat seorang office boy masuk ke ruangan kemudian sibuk mondar-mandir menaruh gelas-gelas teh manis di atas meja, aku diam saja. Yang mengherankanku, dia tampak seolah tak mencium bau busuk itu.  


AKU baru saja pindah ke kota besar ini. Bulan lalu, aku dimutasi ke kantor pusat ini. Meskipun istriku keberatan karena kami terpaksa mencari kontrakan baru, aku tak punya pilihan lain.  

Bau tak sedap di ruangan kerjaku itu segera terlupakan saat aku mengikuti apel pagi. Kepala Bagian Kepegawaian, Pak Sohib, memperkenalkanku kepada seluruh jajaran staf. Apel pagi itu berlangsung setengah jam, sebagian besar diisi oleh sambutan-sambutan oleh Bapak Kepala dan Bapak Wakil Kepala. 

Ketika apel pagi usai, dan aku kembali ke ruanganku, bau busuk itu masih tercium. Bahkan, baunya semakin kuat ketika aku duduk di mejaku. Pegawai yang lain sudah mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi, aku semakin heran, tak seorang pun tampak terganggu dengan bau busuk itu. Apakah mereka sungguh-sungguh tak menciumnya?

Pak Sohib mendadak muncul di depan mejaku. “Pak Andre, mari ikut ke ruangan saya sebentar,” katanya. Dalam hati aku merasa senang. Aku punya kesempatan untuk kabur sementara dari ruangan yang berbau busuk itu. 

Di ruangan Pak Sohib bau itu memang tak tercium benar. Tapi, samar-samar, bau itu masih tertangkap juga olehku, seolah-olah biangnya sudah lekat di pucuk hidungku. Ataukah ini cuma perasaanku saja? Pak Sohib menyerahkan SK baruku dan berkas-berkas kerja pegawai yang posisinya kini aku gantikan.

“Oh ya, atasan langsung Pak Andre, Pak Bobby sedang cuti. Jadi untuk sementara Pak Andre silakan langsung koordinasi dengan Bapak Wakil Kepala. Kalau ada hal lain yang Pak Andre perlukan, jangan sungkan-sungkan menemui saya,” Pak Sohib berkata. “Selamat bergabung dan selamat bertugas.” 

“Terima kasih, Pak Sohib...” ucapku agak menggantung. Haruskah aku bertanya soal bau busuk itu sekarang, di hari pertamaku? Apakah cukup sopan? 

“Hmmm… begini, Pak Sohib… ruangan saya…” 
“Kenapa dengan ruangan, Pak Andre?”
Aku mendadak merasa sungkan.

“AC-nya kurang dingin, ya?
Lelaki tambun di depanku langsung menyambar. Dia tersenyum. Jangan kuatir, hari ini kebetulan ada tukang AC yang datang, Biar nanti saya minta mereka memeriksa AC di ruangan Pak Andre,” kata Pak Sohib. 

Aku cepat menukas, “Tidak perlu, Pak Sohib. Di sana AC-nya sangat sejuk. 

Aku kembali ke ruanganku. Beberapa langkah sebelum sampai di meja, bau busuk itu kembali tercium. Aku mendadak mual. Aku mencari-cari saputangan di dalam tas dan cuma menemukan masker penutup hidung yang biasa aku pakai bila mengendarai motor. Tapi aneh rasanya, mengenakan masker di dalam ruangan ber-AC, bisa-bisa aku dikira sudah senewen. Jadi, kubiarkan bau busuk itu tetap menerjang hidungku. Tapi rasa penasaranku sudah memuncak. Aku tidak tahan lagi untuk tidak bertanya. Kucegat office boy saat lewat di depan ruanganku. 

Joni—begitu nama yang terjahit di atas saku seragamnya—bingung mendengar penjelasanku. “Bau busuk apa ya, Pak?” tanyanya penuh keheranan sambil melihat ke loteng.

“Bau bangkai tikus atau kucing barangkali,” jawabku sambil menutup hidung. Terpikir juga olehku, jangan-jangan itu bau bangkai manusia, tapi apakah mungkin? 

“Saya tidak mencium apa-apa, kok, Pak, kecuali bau pewangi ruangan,” kata Joni. Dia menatapku yang sedang berusaha menahan napas dengan tatapan makin heran.

Apa yang harus kukatakan lagi? Apakah aku benar-benar sudah sinting karena sepertinya hanya aku yang mencium bau busuk itu sementara di ruangan ini ada belasan orang? 

“Tapi, saya akan coba cek ke atas, Pak,” janji Joni. Itu membuatku sedikit lega.
“Terima kasih, Mas,” sahut saya. Joni nyengir, kemudian berlalu. 

Jam istirahat datang juga setelah tiga jam penuh siksaan di meja kerja. Sehabis makan siang, aku mendengar suara-suara di loteng di atas ruanganku. Perasaanku sedikit lega. Pastilah si Joni sekarang sedang merangkak-rangkak di lorong angin sambil menyeret bangkai tikus besar. 

Tapi, setengah jam kemudian, Joni kembali dengan wajah sedikit kesal. “Di atas tidak ada apa-apa, Pak,” katanya merungut, kemudian bergegas pergi. Aku menghela napas karena tak diberi kesempatan bertanya. Aku kembali duduk di mejaku dan mencoba berkonsentrasi pada pekerjaan. Tapi sampai jam pulang, yang ada di kepalaku hanya soal bau busuk itu. Tak ada yang lain. 

Di rumah, Suri, istriku heran dan sama sekali tak percaya mendengar ceritaku. “Abang becanda, kan?” tanyanya. Tapi demi melihat wajahku yang serius, Suri akhirnya mau percaya. Tapi, akibatnya, malam itu juga, aku diajak mendatangi sebuah klinik THT yang tak jauh dari rumah kami.

“Hidung Anda tidak apa-apa,” kata perempuan muda berbaju putih setelah selesai memeriksa hidungku. Suri dan aku makin bingung. 

“Tapi kenapa cuma saya yang bisa mencium bau itu?” tanyaku.


PERTANYAAN itu kuulang-ulang puluhan kali. Kepada dokter spesialis, kepada tetangga, kepada sahabat dekat, bahkan tukang ojek langgananku. Puluhan jawaban muncul, tapi tak ada yang bisa memberi jawaban yang masuk akal. Di kantor, aku sudah seperti orang gila, bekerja mengenakan masker, dan tiga kali sehari aku muntah-muntah di kamar mandi. Anehnya, aku tak pernah jatuh sakit. Baru dua minggu bekerja di sana, berat badanku memang menurun drastis, tapi aku sehat walafiat. Istriku mulai tidak tahan melihat penderitaanku. Terutama ketika hampir setiap malam aku mendapat mimpi buruk. 
 “Berhenti saja. Cari pekerjaan lain,” kata Suri suatu malam sambil menangis.
“Jangan. Ini satu-satunya sumber nafkah kita. Ini satu-satunya keahlianku. Kalau aku mengundurkan diri, kita makan apa?” 
 Pertanyaan itu membuat Suri terdiam. Dan, aku memaki-maki diriku sendiri sampai pagi.

SUATU kali ada tanggal merah yang jatuh pada hari Kamis. Jumat aku bolos kerja. Kumanfaatkan libur panjang itu untuk jalan-jalan bersama keluargaku. Soal bau busuk dan hidungku yang aneh itu, sedikit terlupakan. 
Hari Senin, saat masuk kerja kembali, aku berharap bau busuk itu tak ada lagi. Namun, ketika aku sampai di meja kerjaku, aku salah besar. Bau itu bahkan lebih sengit dari biasanya. Perutku terasa mual dan aku muntah-muntah di kamar mandi. Teman-teman sekerja yang sejak awal sudah heran dengan tingkah anehku, kini mulai bertanya ada apa. Aku coba menjelaskan tentang bau busuk itu. Kubawa mereka ke ruanganku dan reaksi yang kudapatkan hanya kerutan kening dan gelengan kepala. Alih-alih ikut prihatin, mereka semua malah meninggalkan aku sendirian sambil senyum-senyum.
 Setelah istirahat siang, perutku kembali mulas. Aku ingin muntah lagi. Aku lari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutku yang tersisa ke dalam lubang kakus. Di cermin, wajahku memucat. Sebagian karena kehabisan cairan, setengahnya lagi karena rasa bingung campur takut. Apa sebenarnya yang terjadi denganku?
 “Kau bukan yang pertama.”
 Aku tersentak kaget. Entah sejak kapan lelaki itu ada di sana, duduk di atas bangku kayu, di sebuah ruangan sempit penuh peralatan pembersih di depan kamar mandi. Separuh baya, ringkih, dan tampak penyakitan. Baru hari ini aku melihat sosoknya. Di manakah dia selama ini?
 “Maaf, apa maksud Bapak?”
“Kau bukan yang pertama, katanya lagi dengan misterius, kemudian bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu. Kuikuti langkahnya. Aku penasaran, bagaimana lelaki itu bisa tahu soal bau itu. Dan siapa yang pertama kalau bukan aku? Tapi aku kehilangan jejak lelaki itu saat membuka pintu pantri. Di ruangan sempit itu hanya ada Joni.
 “Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Tadi ada bapak-bapak setengah baya masuk ke sini. Kamu lihat tidak?”
Joni mengerutkan kening. “Bapak yang mana?”
“Bapak yang barusan masuk ke sini. Saya tadi bicara dengannya di depan kamar mandi.”
“Pegawai juga? Tidak ada yang masuk ke sini dari tadi, Pak. Hanya ada saya,” kata Joni yakin.
“Dia bukan pegawai, sepertinya rekan kerja Mas Joni. Sudah agak berumur, saya baru lihat dia hari ini,” kataku masih yakin.
 Joni terdiam sebentar, lalu kembali sibuk mengelap gelas basah yang baru saja selesai dicuci. “Tidak ada OB lain di kantor ini, Pak. Hanya ada saya,” katanya sambil menatapku heran.
 Aku pergi. Saat melangkah kembali ke ruanganku, kepalaku terasa sakit. Segala keanehan yang kualami ini membuat otakku mendidih. Belum satu bulan bekerja di kantor ini, aku sudah mulai tak betah. Soal bau tak sedap itu membuat rekan-rekan kerja mengira aku sudah sinting. Tatapan yang diikuti tawa cekikian sering aku terima dari mereka.
 Siang itu aku menelepon istriku dan mengutarakan niatku untuk mengundurkan diri. Istriku, meskipun pernah mengusulkan aku mengambil langkah ini, tetap terkejut mendengar keputusanku.
 Malam itu Suri menangis mendengar ceritaku. Kalau aku benar-benar berhenti bekerja, maka kami terpaksa mulai menjual beberapa barang sampai aku mendapat pekerjaan lain.
 Sekitar pukul sepuluh malam, saat menutup gorden jendela, aku melihat ada orang berdiri di luar pagar depan rumahku. Sosok itu berdiri di bawah tiang listrik dan diam di sana tanpa melakukan apa-apa: hanya matanya saja yang menatap ke arah rumah kami.
 Aku keluar dari rumah dan menghampiri.
 “Bapak mencari siapa?” tanyaku setelah membuka pintu. Dia bergeming. Bagian depan rumahku memang tak banyak mendapat cahaya lampu, jadi sosoknya tampak gelap dari tempatku berdiri. Aku mendekat agar bisa melihat wajahnya.
 Darahku seperti diisap tak bersisa ketika kukenali siapa sosok itu. Lelaki itu, lelaki setengah baya yang tadi siang bicara denganku di depan kamar mandi kantor!
 Aku refleks bergerak mundur.
 “Bapak... bagaimana Bapak bisa tahu rumah saya?” tanyaku gemetar. “Dan ada perlu apa ke sini?”
 Lelaki itu melangkah dari bawah bayangan gelap yang menutupi tubuh kurusnya dan kini aku bisa melihat matanya yang gelap. “Maafkan saya, saya hanya ingin bicara sebentar dengan Saudara. Itu pun kalau Saudara tidak keberatan...” sahutnya. Tangannya memegang tiang besi pagar kuat-kuat, seolah-olah kalau tidak begitu tubuhnya akan ambruk ke tanah.
 “Bicara tentang apa?” tanyaku khawatir. Lelaki ini, sungguh membuatku takut. Siang tadi dia muncul dan menghilang begitu saja, sekarang tiba-tiba nongol di depan rumahku. Dari mana dia tahu tentang aku?
 “Bau itu...” katanya parau. Suaranya mendadak serak. Sebentar kemudian dia terbatuk-batuk. Dengan susah payah dia meredakan sesak yang menyelubungi dadanya. “Kalau tidak keberatan, saya mau segelas air,” ucapnya.
 Aku jatuh kasihan. Kubuka gembok pagar dan kubukakan jalan menuju pintu rumahku. Kami duduk di ruang tamuKU yang kecil. Kuambilkan dia segelas air di dapur, dan dengan suara pelan kami mulai bicara. Dan apa yang kemudian kuceritakan setelah ini—sama sepertiku—pasti membuat Anda tak bisa percaya.
 Lelaki gaek itu mengaku bernama Ihsanuddin. Dulu, dia adalah office boy di kantorku. Tujuh tahun silam, tepat saat berusia 55 tahun, dia pensiun, setelah menjadi office boy hampir selama dua puluh tahun! Pak Ihsan adalah karyawan yang tekun. Sebagaimana semua office boy, dia datang paling pagi dan pulang paling malam. Rentang paling panjang yang dia miliki itu membuat dia tahu segala peristiwa yang terjadi di kantor itu. Kadang-kadang, dia tanpa sengaja memergoki para staf atau pimpinan melakukan hal-hal tak senonoh di ruang kerja mereka—antara sesama karyawan kantor atau dengan orang di luar kantor. Dia pernah misalnya memergoki, Kepala Bagian Keuangan waktu itu, bercinta dengan seorang wanita panggilan malam-malam saat semua karyawan sudah pulang. Pak Ihsan beruntung, si Kepala Bagian Keuangan, tidak sadar perbuatan kotornya ada yang mengetahui.
 Banyak sekali yang sudah dia lihat dan saksikan. Yang paling sering adalah selingkuh kecil-kecilan antarsesama karyawan. Sering dia menangkap basah sepasang kekasih berciuman di pantri atau di dalam kamar mandi, padahal Pak Ihsan tahu, masing-masing sudah punya pasangan dan anak sah di rumah. Sering pula dia menemukan kondom-kondom (atau bungkus kondom) di tong-tong sampah di samping meja pegawai. Pak Ihsan juga tahu siapa berselingkuh dengan siapa, dan siapa saja yang sengaja menutupi perselingkuhan itu.
 Tak hanya soal perempuan nakal atau perselingkuhan, Pak Ihsan juga sering jadi saksi hidup praktik-praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme yang terjadi di kantor itu, terutama di ruanganku berada. Dia berkisah, lelaki-lelaki berdasi datang dengan koper-koper berisi uang-uang haram dan membawa pergi surat-surat izin yang sudah ditandatangangi dan distempel oleh Bapak Kepala. Pak Ihsan juga tahu dan hafal, mana saja karyawan yang masuk dengan jalur yang legal, dan mana yang masuk dengan amplop besar.
 “Tapi ada satu rahasia besar yang sampai saat ini belum saya ceritakan pada siapa pun,” kata lelaki itu di tengah cerita.
 “Rahasia apa?” sergapku penasaran.
 Pak Ihsan menghela napas, memandang isi ruang tamuku untuk mengisi waktu sebelum paru-parunya terisi udara kembali. Dia lalu menatapku penuh harap. “Saya percaya pada Saudara, karena Saudara orang baik. Jadi tolong pegang rahasia ini baik-baik.”
 “Baik, saya berjanji demi nyawa saya,” kataku meyakinkannya.
Lelaki seusia ayahku itu kini menatapku penuh harap. “Satu tahun sebelum saya pensiun, terjadi pembunuhan di kantor itu,” kata Pak Ihsan nyaris berbisik.
 Aku tercekat. Tak kusangka akan mendengar hal itu. “Siapa, Pak? Siapa yang dibunuh?”
 “Namanya Ahmad, seorang office boy.”
“Siapa yang membunuh dia dan kenapa?”
 Raut muka Pak Ihsan tampak makin risau. “Bapak Kepala.”
“Bapak Kepala di zaman Pak Ihsan?” kejarku.
“Ya, dan dia masih menjabat Kepala sampai sekarang.”
 Napasku tiba-tiba serasa berhenti saat mendengar kata-kata itu. Wajahku mendadak memucat. Tubuhku terasa dingin. Terbayang olehku wajah Bapak Kepala. Kami sering bertemu saat rapat. Tak kusangka lelaki yang tampak alim dan santun itu ternyata seorang pembunuh.
 “Kenapa Ahmad dibunuh?” tanyaku bergetar.
“Dia juga sih yang cari gara-gara. Dia tidak bisa tutup mulut. Semua orang di kantor sudah tahu bajingan seperti apa Bapak Kepala itu, tapi tak satu pun yang berani macam-macam. Semua orang takut, semua orang diam, semua orang tutup mulut.”
 “Apa yang dilakukan Pak Kepala sehingga dia Bapak katakan bajingan?”
Lelaki ini makin membuatku penasaran. “Berzina di kantor. Tapi yang diketahui Ahmad jauh lebih banyak, termasuk soal suap dan korupsi. Dia ini pandai menyelidik. Punya bakat jadi intel. Dia menyimpan bukti-bukti.”
 Mengejutkanku, Pak Ihsan tiba-tiba bangkit dan beranjak ke pintu. Aku kaget. Sebelum keluar dia berkata,
 “Ahmad dibunuh persis di ruangan tempat Saudara sekarang bekerja. Mayatnya tak pernah ditemukan. Saya satu-satunya saksi mata atas terbunuhnya Ahmad. Karyawan kantor tak seorang pun yang tahu. Sejak kejadian itu, saya selalu mencium aroma tak sedap di ruangan celaka itu. Anehnya, hanya saya saja yang bisa menciumnya, yang lain tidak. Sama seperti yang Saudara rasakan.”
 Aku tercenung. “Apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanyaku.
 “Tetaplah bekerja di sana. Setelah malam ini, bau itu akan hilang. Saya pamit. Terima kasih sudah mendengar kisah saya.” Lelaki itu keluar dari pintu rumahku dan dengan cepat menghilang di balik pagar rumah. Aku sama sekali tak sempat menahan langkahnya.

PAK IHSAN benar. Pagi-pagi, ketika sampai di kantor, bau itu sudah hilang, yang tinggal hanya aroma segar pewangi ruangan. Aku merasa lega. Persoalan bau itu selesai sudah dan surat pengunduran diri yang kemarin mau aku serahkan ke Pak Sohib, aku remuk dan kulempar ke tong sampah. Dengan lega aku beranjak ke kamar mandi.
 Joni tampak sedang sibuk menyiapkan teh pagi. Dengan ramah kuhampiri dia dan mengabarkan soal bau yang sudah lenyap itu.
 “Oh, ya? Syukurlah,” jawabnya singkat kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sebelum meninggalkan office boy pendiam itu, mataku menangkap sebuah foto usang tertempel di lemari tua di sudut pantri. Aku penasaran.
 “Foto siapa itu, Mas?”
 Joni menoleh ke arah foto yang kumaksud dan menyahut dengan nada suram. “Namanya Pak Ahmad. Dulu office boy di sini. Suatu hari dia lenyap. Tak pernah kembali lagi. Hilang seperti ditelan bumi,” jelas Joni.
 Ya, Tuhan... lelaki yang mati dibunuh Bapak Kepala itu... Dengan dada berdebar aku melangkah mendekati lemari tua itu dan memerhatikan foto itu dari dekat.
 Saat melihat wajah siapa dalam foto itu, napasku mendadak berhenti.
 Wajah dalam foto usang itu adalah wajah Pak Ihsanuddin, lelaki yang semalam bertamu ke rumahku. Hanya saja, di foto itu dia tampak lebih muda beberapa tahun.
 “Bukannya ini Pak Ihsanuddin?” tanyaku cepat pada Joni. Badanku seketika panas dingin.
 “Ya, betul, ada juga yang manggil dia begitu. Nama lengkapnya memang Ahmad Ihsanuddin.”
 Kini, kerongkonganku seolah tersumbat. Aku terpaku di atas kedua kakiku. Badanku menggigil.[]

Tanah Baru, 7 Oktober 2011

1 comment:

Arif Chasan said...

saya baca ini dini hari...
mau ke wc.. jd merinding gini.. -____-