Wednesday, July 6, 2011

Seperti Purnama


(Majalah Ishlah No. 77/IV/1997)


“Jadi, mungkin nanti malam Mas pulang agak telat.”

Imron memasang helm dan menatap Ines.

“Lembur lagi?” tanya Ines cemberut. Wanita itu memberikan rantang bekal makan siang pada suaminya.

“Iya, sekarang sedang banyak kerjaan. Sementara montir yang ada tidak seberapa.”

“Kenapa Pak A Seng itu nggak nambah karyawan saja, Mas?”

Imron menghidupkan vespanya. Begitu hidup, suara motor tua itu melengking, ribut sekali. Sampai-sampai ada tetangga yang melongokkan kepalanya dari dalam rumah.

“Nggak tau tuh, Mas sudah pernah usulkan. Tapi Pak A Seng itu bilang, sekarang susah nyari montir yang berpengalaman. Maksudnya, banyak yang tidak mengerti mesin. Nah, katanya lagi, biarlah punya montir sedikit asal terampil dan punya pengalaman. Dan...”

Imron berhenti bercerita ketika dilihatnya Ines menyilangkan telunjuknya di bibir. “Sudah, Mas. Nanti saja ceritanya. Sekarang ayo berangkat, nanti telat lagi seperti kemarin.”

Imron tersenyum mendengar ucapan istrinya. “Iya deh. Kalo gitu Mas berangkat. Jaga rumah baik-baik. Assalamu’alaikum.”

Vespa itu melaju, meninggalkan kepulan asap putih. Ines menutup pintu pagar dan melangkah ke dalam. Ia segera ingat bahwa ia ada janji menelepon Rani, teman kuliahnya. Ada sedikit perubahan pada kegiatan bedah buku yang sedang mereka persiapkan. Mas Imron, suaminya yang tercinta, tidak jadi mengisi acara tersebut, karena harus keluar kota pada hari yang sama.

Ines sudah mengangkat telepon ketika didengarnya suara pagar dibuka seseorang. Dibukanya tirai jendela dan mengintip keluar.

O la la, Ines tersenyum geli. Diletakkannya lagi gagang telepon dan ia memburu keluar. “Mogok lagi ya, Mas?”

Imron mengangguk. Ia mendorong vespa masuk.

“Mas jadi heran deh, mobil sebandel apapun bisa Mas perbaiki, tapi motor butut milik sendiri, kok nggak pernah bersahabat ya?”

“Mungkin sudah waktunya diganti, Mas,” ucap Ines bercanda. Ia ikut jongkok di samping suaminya. Imron mengutak-atik vespanya itu sebentar. Lantas dicobanya menghidupkan motor warisan ayahnya itu. Tapi vespa itu nggak kunjung hidup. Dicobanya lagi, tapi gagal lagi.

“Naik angkot saja, Mas. Udah hampir siang nih,” tahan Ines ketika Imron mencoba membongkar mesin motornya. Imron mengangguk setuju. Ia segera membereskan alat-alat motornya dan mencuci tangan. Setelah itu ia berangkat.

“Hati-hati ya, Mas,” pesan Ines melepas suaminya.

@@@

Ketika Imron turun dari angkot, ia melihat Pak A Eng berdiri di pintu gerbang bengkel. Imron langsung deg-degan. Soalnya sudah empat kali dia terlambat dalam minggu ini. Perkaranya, ya, masih soal vespa tua itu. Tidak ada alasan lain.
Imron berjalan mendekat. Ia sudah siap menerima apa saja yang akan dikatakan lelaki Cina itu. Dengan tenang ia menyapa. “Selamat pagi, Pak.”

Pak A Seng tersenyum. Lho? Debar di dada Imron langsung lenyap menatap senyum lebar lelaki itu.

“Vespanya mogok lagi ya, Im?”

“Iya, Pak. Baru saja satu kilo, eh sudah mogok lagi,” jawab Imron akrab. Pak A Seng tersenyum lagi.

“Masak sih, kamu nggak bisa betulin. Kamu kan montir terbaik di sini.”

Imron tersipu juga menerima pujian itu.

“Ya...memang mesinnya sudah tua begitu. Diperbaiki pun tidak akan bertahan lama, Pak.”

“Kenapa nggak diganti saja motornya?”

Sekarang Imron yang tersenyum. Ia menangkap nada canda dalam ucapan lelaki itu.
“Orang kecil macam saya mana bisa beli motor, Pak? Wong untuk makan sehari-hari saja susah,” jawab Imron sekenanya.

Pak A Seng tertawa. “Ya, sudah. Sekarang kamu kerja yang rajin. Kalau kamu sungguh-sungguh, jangankan motor, kapal terbang bisa kamu beli. Ya, kan?”

“Iya, Pak,” jawab Imron sambil berlalu dari hadapan lelaki itu. Hatinya benar-benar lega.

@@@

“Kalau dipikir-pikir, sikap Pak A Seng akhir-akhir ini kok agak lain, ya?” Imron membuka perbincangan itu sebelum mereka tidur. Ines menatap sekilas pada suaminya, lalu matanya terjuju lagi pada buku di pangkuannya.

“Lain bagaimana sih, Mas?” tanyanya.

“Ya. Sikapnya pada Mas dari hari ke hari makin baik. Tadi pagi, ketika Mas terlambat, ia tidak marah. Padahal kemarin Mas lihat sendiri dia mendamprat Parto habis-habisan karena terlambat masuk.”

“Barangkali, tadi pagi suasana hatinya sedang baik,” duga Ines.

“Mungkin juga. Tapi masih ada sikap-sikapnya yang membuat Mas semakin heran.”

“Contohnya?”

“Ya, pokoknya ia begitu baik. Itu saja.”

Keduanya kemudian diam. Imron masih berpikir tentang Pak A Seng. Dan Ines sedang hanyut dengan bukunya. Namun tak lama kemudian ia teringat sesuatu.

“Mas...,” panggilnya.

“Hmm?” Imron menatap istrinya.

“Mas tidak berpikir kalau Pak A Seng itu sedang merencanakan sesuatu terhadap Mas?”
Imron membalikkan tubuhnya menghadap Ines. Ia menatap istrinya heran. “Rencana apa?”

“Ya, barangkali saja ia punya maksud yang tidak baik di balik sikap-sikapnya itu.”

“Hush! Nggak baik berburuk sangka begitu. Biarpun Pak A Seng itu nggak seaqidah dengan kita, kita nggak boleh menuduh dia yang macam-macam.”

Ines terdiam. Suaminya benar. Nggak baik berburuk sangka pada orang lain. Apalagi pada orang sebaik Pak A Seng.

@@@

Imron sedang sibuk mengutak-atik perut sebuah Kijang ketika seseorang menepuk kakinya. “Mas Im, dipanggil Bos!”

Suara Aji membuat Imron melongokkan kepalanya. “Ada apa Ji?” tanyanya seraya melap tangannya.

“Nggak tau tuh. Kayaknya penting!” jawab Aji, anak STM yang magang di bengkel itu.
Imron segera ke ruangan Pak A Seng. Ketika Imron masuk, bosnya itu sedang menelepon. Pak A Seng menggerakkan tangannya, menyuruh Imron menunggu.

“Kerjamu sudah beres, Im?” tanya Pak A Seng setelah meletakkan telepon.

“Sedikit lagi, Pak.”

“Kalau begitu suruh si Parto melanjutkan kerjamu. Sekarang ikut saya ke Menara Agung,” ucap Pak A Seng sambil mengantongi handphonenya.

Imron tersentak. Menara Agung? Ngapain bos mengajaknya ke showroom Honda itu?
“Maaf, Pak. Boleh saya tahu...”

“Ah, ikut saja. Saya ingin memperlihatkan sesuatu padamu.”

Imron tidak bertanya lagi. Segera ia ke bengkel menyuruh Parto membereskan Kijang yang masih terbengkalai. Ia kemudian mengikuti langkah Pak A Seng memasuki sedan yang terparkir di depan kantor.

Dalam perjalanan, Imron tidak banyak bicara. Ia masih diliputi kebingungan. Ia sungguh heran melihat tingkah bosnya akhir-akhir ini. Orang Cina itu dirasanya terlalu mengistimewakannya. Pokoknya dia terlalu baik. Buktinya?

Pertama, ketika ia melamar kerja di bengkel itu, Pak A Seng langsung menyamakan gajinya dengan pegawai yang sudah senior. Padahal setahu Imron tidak begitu untuk karyawan yang lain. Kedua, ia diizinkan untuk melaksanakan semacam kelompok pengajian untuk karyawan bengkel itu. Bahkan orang Cina itu memberikan jatah setengah hari setelah Jum’at kepada Imron dan teman-temannya untuk melaksanakan kegiatan mereka. Ketiga, soal keterlambatannya tempo hari, Pak A Seng sama sekali tidak menegur atau memarahinya.

Benarkah dugaan Ines kalau lelaki itu punya ‘udang di balik batu’ di balik semua kebaikannya?

“Mungkin karena Bang Imron rajin dan tekun bekerja,” jawab Parto ketika Imron bercerita padanya suatu kali. “Jadi, Bos kita jatuh sayang pada Abang.”

“Kamu yakin cuma karena itu?” tanya Imron kurang puas.

“Ya, lalu apalagi kalau bukan itu? Lagian Pak A Seng itu nggak punya siapa-siapa lagi lho, Bang. Istri dan anak-anaknya tewas dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu.”

Imron diam saja mendengar penjelasan Parto. Parto memang lebih banyak tahu. Lelaki lulusan SMP itu sudah bekerja di bengkel Pak A Seng sejak lima tahun yang lalu.
Imron tercenung. Kini apalagi kebaikan laki-laki itu yang akan diterimanya?

@@@

Imron sudah menduga kalau istrinya akan terkejut melihat ia pulang dengan sebuah motor baru.

“Motor siapa, Mas?” tanya Ines ketika Imron memasukkan motor baru itu ke dalam rumah.

“Mas akan mandi dulu, trus makan yang lahap. Nah, setelah itu baru Mas akan cerita. Setuju?” usul Imron. Ines segera menyiapkan handuk dan pakaian ganti. Setelah itu ia menyiapkan makan malam.

@@@

Setengah jam kemudian.

“Jadi Mas terima saja pemberian itu?” tanya Ines khawatir.
Imron menangkap kegelisahan istrinya. “Mas sudah coba menolak, tapi Pak A Seng mengancam akan memecat Mas kalau pemberiannya itu ditolak.”

Ines tercenung. Matanya menatap motor baru yang kini ada di rumah mereka. Ines tidak tahu, apakah ia senang atau justru harus membenci pemberian bos suaminya itu. Semestinya ia bersukacita, tapi dugaan lain menyelinap di kepalanya. Apa maksud Pak A Seng memberi hadiah motor yang harganya hampir tiga belas juta itu?

Oh, semoga pemberian itu didasari oleh ketulusan, bukan oleh niat jahat terselubung, harap Ines dalam hati.

@@@

Hari-hari terus berlalu. Sejak menerima hadiah motor baru itu, Imron jadi tambah rajin bekerja. Ia tak pernah lagi datang terlambat. Ia merasa jadi punya hutang budi pada Pak A Seng. Untuk membalas kebaikan lelaki itu ia harus bekerja dengan baik dan rajin. Ia tak akan mengampuni dirinya sendiri, kalau kedapatan melalaikan pekerjaannya.

Waktu terus saja berlalu. Tapi sampai saat ini Imron masih belum juga mengerti maksud pemberian hadiah itu. Akhirnya Imron menyerahkan semuanya pada Allah. Imron berdoa, semoga tidak ada maksud yang tidak baik dari kebaikan bosnya itu.

@@@

Jam sepuluh malam, saat Imron sedang khusyuk membaca Al-Quran, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Imron meletakkan Al-Quran dan bergegas membukakan pintu.
Sebuah wajah bermata sipit berdiri di luar pintu. Imron terkejut. Sangat terkejut!

“Oh, Pak A Seng. Silakan masuk, Pak.”

“Terima kasih, Im. Apakah saya mengganggumu?”

“Oh, tidak Pak,” jawab Imron cepat.

Pak A Seng duduk. Ia mengenakan sweater yang serasi sekali dengan warna kulitnya yang putih. Tapi wajahnya terlihat begitu lain. Wajah itu seakan menanggung sesuatu yang amat berat.

Imron memanggil Ines dan menyuruhnya membuatkan minum. Ia lalu duduk menemani tamunya.

“Maaf, Pak. Rumah saya masih berantakan begini,” ucap Imron memecah kebisuan diantara mereka.

“Ah, tidak apa-apa. Saya dulu juga begini.”

Imron tersenyum. “Ngomong-ngomong, Bapak tahu rumah saya dari siapa?” Ia ingat, ia tak pernah cerita tentang tempat tinggalnya pada laki-laki itu.

“Dari si Aji.”

Imron mengangguk-angguk lagi. Ines kemudian muncul membawan minuman dan kue.

“Silakan diminum, Pak. Saya cuma punya ini.”

“Ah, tidak apa-apa,” Pak A Seng mengangkat gelasnya dan meneguk minuman itu perlahan. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dan matanya terpaku pada sebuah kaligrafi besar di dinding. Imron menangkap perubahan wajah lelaki setengah baya itu.

“Begini, Im. Saya mau minta tolong,” Pak A Seng berkata begitu pelan.

“Apa yang bisa saya lakukan untuk Bapak?”

Pak A Seng kelihatan ragu. Ia menatap Imron daam-dalam. “Saya sudah memikirkannya masak-masak tadi malam. Dan akhirnya saya memutuskan ini,” lanjutnya. Imron masih bingung. Apa yang akan diminta lelaki itu? Apa ia mau mengambil kembali motor pemberiannya?

Tidak! Imron tidak akan keberatan sama sekali. Ia sudah siap melepas motor itu kembali pada pemiliknya. Ia ikhlas.

“Saya...saya...,” kata-kata itu terputus dari mulut Pak A Seng.

“Katakan saja, Pak. Saya akan bantu sebisa saya,” dorong Imron.

Pak A Seng menatap lelaki muda di depannya. Ia yakin, Imron pasti orang yang tepat.
“Saya ingin masuk Islam, Im,” ucapnya akhirnya.

Kata-kata itu membuat tubuh Imron tersentak. Allahu Akbar! Pekiknya dalam hati. Tidakkah telinganya salah dengar?

“Alhamdulillah...,” ucap Imron tersenyum lebar. Pak A Seng ikut tersenyum.

“Bagaimana, Im? Bisa bantu Bapak mengenal Islam lebih dalam?”

Imron mengangguk kuat-kuat.

Ya, Rabb, inikah hikmah dari semua kebaikan lelaki itu?

@@@

Semua jadi senang dan terharu. Masing-masing karyawan bergantian memeluk dan menyalami Pak A Seng. Ketika tiba giliran Imron, lelaki Cina itu menangis.

“Terima kasih, Im. Aku tertarik pada Islam lewat pribadimu. Kau menjadi pintu dari setiap kebenaran yang aku cari selama ini.”

Imron juga tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk lelaki yang kini sudah seiman dan seaqidah dengannya itu.

“Allah telah mengatur semuanya, Pak. Semoga jalan ini benar-benar membuat kita lebih mencintai-Nya.”

Imron memperkuat pelukannya. Entah kenapa, ia merasa sudah lama mengenal Pak A Seng.
Imron menatap sekali lagi pada lelaki itu sebelum melepas pelukannya. Dalam baju koko dan peci yang dikenakannya, Pak A Seng benar-benar lain dari sebelumnya. Tapi ada yang lebih patut diperhatikan.

Wajahnya.

Wajah itu sungguh memancarkan kebahagiaan. Seperti purnama.[]







No comments: