Thursday, July 7, 2011

Paderi



MATAHARI tepat di ubun-ubun ketika pedati beratap daun rumbia itu berhenti di bawah sebuah pohon beringin besar yang tumbuh tak jauh dari jalan. Suara ganto yang sepanjang perjalanan jadi musik pengusir sepi ikut pula berhenti. Sutan Pandeka, lelaki pemilik gerobak kayu itu melompat turun sambil melihat posisi matahari. Sudah masuk zuhur, pikirnya. Setelah membelitkan kain sarung di pinggang, ia memeriksa keadaan kerbaunya yang sejak dari Bukit Ngalau mulai banyak perangai.

Kerbau besar itu dibelinya di Pekan Rabaa tiga hari yang lalu. Si Penjual meyakinkannya setengah mati bahwa hewan itu bekas penghela pedati, sesuai syarat yang diberikan Tuanku Sulaiman padanya. Tapi kini Sutan Pandeka tidak percaya lagi. Kerbau itu tidak sekali dua kali membuat ulah sepanjang perjalanan. Kini kerbau pongah itu mendengus-dengus mengusir langau yang beterbangan di sekitar kepalanya.

Sekilas melihat, orang-orang akan menyangka Sutan Pandeka seorang saudagar yang akan pergi ke pekan-pekan untuk berdagang. Pedati itu penuh berisi muatan kelapa, beras, cabe giling dan garam, seolah-olah akan dibawa ke Piladang dan Bukittinggi untuk di jual.

Tapi sebenarnya bukan begitu. Sutan Pandeka bukan pedagang dan gerobak kayu itu hanya dimuat setengahnya.

“Tuanku,” Sutan Pandeka berbisik ke dalam pedatinya. “Sudah waktunya salat zuhur. Di bawah sini ada batang air. Kita bisa istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.”

Sembari berkata begitu, mata Sutan Pandeka melihat ke jalan, berjaga-jaga kalau-kalau ada pedati atau orang lain yang akan melewati tempat itu. Namun tidak ada siapapun di sekitar tempat itu.

Dari balik tirai kain, di belakang tumpukan kelapa dan sagu, muncul seorang lelaki muda. Dialah Tuanku Sulaiman.

“Apakah keadaan aman, Sutan?”

“Insya Allah, Tuanku. Ambo mengenal daerah ini dengan baik. Sewaktu bujang-bujang tanggung dulu sering bermain randai ke daerah sini. Pos Balando paling dekat ada setengah hari perjalanan dari sini.”

Tuanku Sulaiman keluar dari pedati. Ia mengenakan pakaian seperti rakyat kebanyakan. Hanya wajahnya saja yang terlihat lebih putih dari wajah orang-orang Minangkabau kebanyakan. Ia sudah mencukur jenggotnya yang panjang sebelum berangkat. Kecuali bagi yang benar-benar mengenalnya, tidak akan ada yang tahu bahwa ia adalah salah satu murid kesayangan Tuanku Imam Bonjol yang diutus kaum Paderi untuk berangkat menemui keluarga Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung.

Sutan Pandeka dan Tuanku Sulaiman turun ke batang air mengambil air wudhu. Berdua mereka salat di atas batu picak yang ada di tengah sungai.

Sebenarnya tidak ada yang perlu mereka khawatirkan. Sejauh ini mereka belum menemui halangan apa-apa. Di setiap kota dan nagari, mereka berhenti dan beristirahat, sambil mencari-cari kendaraan yang lebih aman untuk melanjutkan perjalanan. Di Limo Puluh Koto mereka terpaksa menjual kuda-kuda mereka dan membeli sebuah pedati dan kerbau penghelanya. Mereka perlu mengganti penyamaran. Lewat dari Limo Puluh Koto, mereka sudah memasuki daerah kekuasaan orang-orang kaum adat.

Sebenarnya, ada jalan yang lebih aman. Mereka bisa berkuda lewat jalan hutan dan gunung dari Bonjol ke Pagaruyung, tapi perjalanan bisa makan waktu berhari-hari. Karena urusannya sudah mendesak, terpaksa diambil jalan biasa, walau dengan resiko tertangkap Belanda atau dicegat orang-orang kaum adat.

Sejak pos Belanda di Tanjung Alam, Panampung, Koto Baru dan Lubuak Agam berhasil direbut pasukan Paderi, Belanda mengerahkan kekuatan terbesarnya di bawah komando Letkol Raaff untuk mengejar orang-orang Paderi. Celakanya belasan ribu orang-orang pribumi yang tergabung dalam pasukan adat masih berpihak kepada Belanda dan ikut memburu para pemimpin dan pengikut kaum Paderi yang dipimpin delapan ulama Harimau nan Salapan. Entah kapan orang-orang adat akan sadar bahwa lawan mereka yang sebenarnya bukan orang-orang Paderi —saudara mereka sendiri— tapi adalah si kafir penjajah kolonial Belanda.

@@@

Satu jam kemudian pedati itu berangkat melanjutkan perjalanan. Sutan Pandeka merasa tak perlu lagi cemas ada yang melihat mereka dan mengenali Tuanku Sulaiman. Ia mengendalikan kerbau pedatinya dengan tenang seperti pedagang biasa. Dalam hitungannya besok sore mereka sudah sampai di Pagaruyung.

Tapi Sutan Pandeka salah.

Sepasang mata tak bersahabat yang dibingkai wajah separoh cacat telah melihat semuanya.

@@@

Masyarakat Minangkabau telah memeluk ajaran Islam sejak Abad 16 atau bahkan sebelumnya. Namun hingga awal abad 19, masyarakat tetap melaksanakan adat yang berbau maksiat seperti judi, sabung ayam maupun mabuk-mabukan. Hal demikian menimbulkan polemik antara Tuanku Koto Tuo -seorang ulama yang sangat disegani—dengan para muridnya yang lebih radikal. Terutama Tuanku nan Renceh.

Mereka sepakat untuk memberantas maksiat. Hanya, caranya yang berbeda. Tuanku Koto Tuo menginginkan jalan lunak. Sedangkan Tuanku nan Renceh cenderung lebih tegas. Tuanku nan Renceh kemudian mendapat dukungan dari tiga orang yang baru pulang haji dari Mekah (1803) yang membawa paham puritan Wahabi. Mereka Haji Miskin dari Pandai Sikek, Haji Sumanik dari Delapan Koto, dan Haji Piobang dari Limo Puluh Koto.

Kalangan ini kemudian membentuk forum delapan pemuka masyarakat. Mereka adalah Tuanku nan Renceh, Tuanku Bansa, Tuanku Galung, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku Kubu Ambelan dan Tuanku Kubu Sanang. Mereka disebut "Harimau nan Salapan" (Delapan Harimau). Tuanku Koto Tuo menolak saat ditunjuk menjadi ketua. Maka anaknya, Tuanku Mensiangan, yang memimpin kelompok tersebut. Sejak itu, ceramah-ceramah agama di masjid berisikan seruan untuk menjauhi maksiat.

Ketegangan meningkat setelah beberapa tokoh adat sengaja menantang gerakan tersebut dengan menggelar pesta sabung ayam di Kampung Batabuh. Konflik terjadi. Beberapa tokoh adat berpihak pada ulama Paderi. Masing-masing pihak kemudian mengorganisasikan diri. Kaum Paderi menggunakan pakaian putih-putih, sedangkan kaum adat hitam-hitam.

Tuanku Pasaman yang juga dikenal sebagai Tuanku Lintau di pihak Paderi berinisiatif untuk berunding dengan Kaum Adat. Perundingan dilangsungkan di Koto Tangah, antara lain dihadiri Raja Minangkabau Tuanku Raja Muning Alamsyah dari Pagaruyung. Tapi perundingan damai tersebut malah berubah menjadi pertempuran sengit. Raja Muning Alamsyah melarikan diri ke Kuantan, Lubuk Jambi. Pada 1818, Raja Muning mengutus Tuanku Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam untuk menemui Jenderal Inggris Raffles di Padang. Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto yang berkedudukan di Kalkuta saat itu menolak untuk campur tangan soal ini. Melalui "Tractat London", Inggris bahkan menyerahkan kawasan Barat Sumatera pada Belanda.

Pada 10 Februari 1821, Tuanku Suruaso memimpin 14 penghulu dari pihak Adat mengikat perjanjian dengan Residen Du Puy. Du Puy lalu mengerahkan 100 tentara dan dua meriam untuk menggempur kota Simawang. Perang pun pecah. Sejak peristiwa itu, permusuhan kaum Paderi bukan lagi terhadap kalangan Adat, melainkan pada Belanda. Mereka pun memperkuat Benteng Bonjol yang telah dibangun Datuk Bandaro. Muhammad Syahab –kemudian lebih dikenal dengan panggilan Tuanku Imam Bonjol—ditunjuk untuk memimpin benteng itu.

@@@

Seorang pejuang Paderi berpakaian putih-putih berlari sekuat tenaga menuju masjid tempat Tuanku Imam Bonjol berkumpul dan menyusun strategi. bersama sahabat-sahabatnya. Masjid itu dibangun di dalam benteng Bonjol.

Sampai di tangga masjid itu, prajurit itu disambut seorang pengawal. “Sanak, sampaikan kabar pada Tuanku Imam Bonjol, ada seorang utusan ingin bertemu dengan beliau. Ini penting sekali,” ucapnya terburu-buru.
Pengawal itu mengangguk, lalu naik ke atas masjid.

Utusan yang dimaksud ternyata seorang pejuang Paderi yang telah lama disusupkan di kubu orang-orang adat. Sekali sebulan ia melaporkan perkembangan yang terjadi di kubu lawan.

“Langsung saja, Sutan Sati, apa yang ingin kau laporkan?” tanya Tuanku Sinaro nan Balang.
Di ruangan masjid itu berkumpul empat dari delapan pemimpin pejuang yang menjadikan Bonjol sebagai basis. Tapi sang utusan tidak melihat Imam Bonjol di sana. Namun ia kemudian diberitahu bahwa Tuanku Imam Bonjol sedang sakit.

Sutan Sati memulai laporannya.

“Tuan-tuan, Belanda telah berhasil menguasai Sulit Air, Simabur dan Gunung,” ucapnya memulai. Terdengar ucapan-ucapan khawatir diruangan itu. “Dari Batavia, Belanda telah mengirim bantuan 494 pasukan dan 5 pucuk meriam. Pagaruyung dan Batusangkar dapat direbut, walaupun istana tidak diapa-apakan. Mereka juga telah membangun benteng Fort van der Capellen, dan menawarkan damai pada Taunku Lintau. Tapi Tuanku Lintau menolak. Pertempuran sengit terjadi lagi. Alhamdulillah, pasukan Belanda yang dipimpin Letkol Raaff yang hendak menyerang melalui Kota Tengah dan Tanjung Berulak berhasil dijebak Tuanku nan Gelek.”

Tuanku Koto Gadang, Tuanku Samek Perak, Tuanku Gunuang Sago dan Tuanku Sinaro Balang saling berpandangan.

Tuanku Samek Perak, yang paling muda diantara mereka angkat bicara, “Kalau begitu posisi kita mulai terancam. Tuanku Imam Bonjol sedang sakit, jadi kita tidak bisa memberitahu beliau mengenai berita ini. Saya ingin pendapat Tuan-tuan yang lain.”

“Yang paling penting sekarang adalah menyadarkan Tuanku Suruaso, para penghulu dan para pemimpin adat bahwa sekarang tidak ada lagi gunanya kita saling berpecah,” Tuanku Koto Gadang urun rembuk. “Musuh kita sudah sangat jelas. Tidak perlu lagi jatuh korban dari kalangan kaum kerabat dan anak kemenakan kita sendiri,” tambahnya sedih.

“Aku berharap, pihak kerajaan di Pagaruyung bisa menerima Tuanku Sulaiman dengan hati bersih. Walaupun Raja Muning Alamsyah masih di Jambi, kita bisa berunding dengan para Sultan Kerajaan yang masih berada di Pagaruyung. Kalau perlu ikut sertakan Bundo Kandung dalam masalah ini. Kurasa sudah saatnya kita bersatu melawan si kapia Belanda itu,” Tuanku Gunuang Sago melihat pada Sutan Sati.

“Apa kau mendengar kabar tentang Tuanku Sulaiman dan Sutan Pandeka? Sudah sampai di manakah mereka?”

“Antah, Tuanku. Mungkin karena penyamarannya begitu sempurna, saya sendiri tak mendengar apapun tentang mereka. Tapi perlu saya katakan pada Tuan-tuan, diantara orang-orang kaum adat, banyak yang mengasapi dapurnya dengan jadi mata-mata Belanda. Mereka banyak yang berhasil membocorkan segala rahasia tentang pasukan kita ke telinga Belanda. Mereka juga tak segan-segan membantai para pengikut kaum Paderi yang mereka temui di jalanan.”

Para pemimpin Paderi itu mendesah khawatir.

“Semoga utusan kita bisa selamat sampai di tujuan dan bisa menyerahkan pesan yang telah dibuat Iman Bonjol kepada orang-orang di istana Pagaruyung.”

@@@

Pedati yang ditumpangi Tuanku Sulaiman bergerak terseok-seok di jalanan tanah mendekati daerah Barulak, Tanah Datar. Senja sedang menjelang, sebentar lagi gelap. Sutan Pandeka sesekali melontarkan beberapa patah kata kepada Tuannya untuk mengusir rasa bosan. Melewati rimba seluas itu, tak ada yang tak mustahil akan terjadi. Singa dan Harimau kumbang sudah sering terdengar penguasa belantara itu. Tak sedikit pula kabar terdengar tentang para penyamun yang sering merampok para pedagang yang lewat di tempat itu malam-malam.

Sutan Pandeka memasang pusung dan mengebatnya di tiang pedati. Api pusung itu melambai-lambai di tiup angin malam, terlihat seperti bintang kecil di jagat raya hutan yang maha lebat itu.

Si kerbau besar entah kenapa tidak banyak ulah sejak habis ashar tadi. Ketika berhenti untuk makan di Batu Ampar, Sutan Pandeka telah mencarikan rumput untuk si besar bangkalai itu. Mungkin perutnya sudah kenyang. Suara genta di lehernya mengeluarkan irama seolah-olah ingin menunjukkan betapa gembiranya dia.
“Tidak adakah surau untuk tempat salat di dekat sini, Sutan?” Suara halus Tuanku Sulaiman terdengar. “Aku ingin salat dan membaca al-Quran barang sepatah dua patah ayat. Kering sekali jiwaku sejak lima hari ini.”
Sutan Pandeka tersenyum. “Bukankah Tuanku sudah hapal al-Quran luar kepala?” tanyanya. Terdengar Tuanku Sulaiman tertawa.

“Betul, Sutan. Tapi aku rindu sekali duduk dalam surau dan berdoa panjang-panjang di hadapan Allah.”
“Tidak akan lama lagi, Tuanku. Sebentar lagi kita akan sampai di sebuah surau tua di pinggir hutan ini. Di sana aman. Kita akan istirahat di sana,” janji Sutan Pandeka.

Tak lama kemudian ia mendengar senandung lantunan ayat al-Quran dari dalam pedatinya. Begitu terasa betapa rindunya Tuanku Sulaiman untuk segera bersujud di hadapan Tuhannya. Tuanku Sulaiman masih sangat muda, tidak sebanding dengan tanggung jawab yang kini dipikulnya.

Sesuatu lalu terdengar berkelebat dalam kegelapan malam. Sutan Pandeka menggenggam pedang yang ia sampirkan di dada. Di antara suara-suara halus tilawah Tuanku Sulaiman, ia mendengar suara-suara mencurigakan di sekitar mereka. Sutan Pandeka menarik kekang kerbau sampai pedati itu berhenti.
“Tuanku…” ia berbisik memberi tanda. Tuanku Sulaiman menghentikan tilawahnya. Seketika itu pula hutan itu sunyi senyap. Hanya suara kibaran api pusung tertiup angin dan lenguhan kerbau pedati yang terdengar. Tapi kesunyian itu tak berlangsung lama. Dari rimbunan semak belukar, dari balik kegelapan pohon-pohon raksasa, melesat lima bayangan hitam. Dalam tiga detik mereka menghadang jalan pedati Sutan Pandeka. Kelimanya memakai topeng dan pakaian hitam-hitam. Pantulan cahaya lampu pusung memantulkan kemilau golok-golok di tangan mereka.

Sutan Pandeka bukan pendekar sembarangan. Ia sudah menuntut ilmu dan berguru silat ke berbagai gunung. Dan selama perang berlangsung, ia termasuk prajurit yang paling ditakuti kaum adat dan Belanda. Tak salah jika para pemimpin Paderi memilihnya untuk mengantar Tuanku Sulaiman ke Pagaruyung.

“Tak ado gadiang nan tak ratak. Tak ado tupai nan tak gawa. Manusia basifat kilaf. Nan qadim hanyo sifat Tuhan. Ampunkan denai dek Mamak-mamak, kok lah sasek denai masuak, kok salah denai malangkah. Apo garan nan mambuek Mamak-mamak mahambek jalan denai. Apo garan kasalahan denai?”

Sahut sapa pembuka itu ternyata tidak mendapat balasan yang setimpal. Sutan Pandeka menerka-nerka siapakah orang-orang ini? Penyamun kah? Atau sekelompok orang-orang adat yang santer terdengar suka menghadang orang-orang Paderi?

“Jangan banyak cincong, wa-ang!” Terdengar suara hardikan. “Periksa pedatinya!”

Tak jelas siapa yang memberi perintah. Tapi Sutan Pandeka merasa hal itu tidak perlu lagi sekarang. Sekali sentak ia meniup pusung pedatinya. Ia merasa lebih leluasa bertempur dalam gelap. Lagipula ia merasa orang-orang ini tak lebih dari penyamun biasa.

“Siapa dunsanak-dunsanak ini sebenarnya? Kenapa menghalangi jalan saya?” Sekali lagi Sutan Pandeka mencoba menghindari pertempuran. Tapi ia tidak menerima jawaban apa-apa. Tiga orang penghadang itu malah meloncat ke atap pedati dan mencoba menghancurkannya.

Sutan Pandeka menerjang lawan-lawannya. Dalam perkiraannya, tak akan lama baginya menghabisi kelima perampok itu. Tapi ternyata mereka bukan penyamun biasa. Tampaknya mereka telah terbiasa bertempur dalam kegelapan malam.

“A..aah!” Sutan Pandeka mengaduh. Sabetan golok seorang diantara perampok itu merobek pinggangnya. Tapi tak diduganya kalau hal itu telah menimbulkan akibat yang belakangan disesalinya seumur hidup. Mendengar suara pengawalnya, Tuanku Sulaiman keluar dari dalam pedati dan melibatkan diri dalam pertempuran.

Dengan tidak percaya, ia melihat Tuanku Sulaiman dalam waktu sebentar saja telah melumpuhkan kelima perampok itu.

“Ampunkan saya, Tuanku. Kenapa Tuan keluar dari pedati? Saya masih bisa mengatasi mereka.” Penuh rasa bersalah Sutan Pandeka berkata.

“Aku dengar kau kewalahan, Sutan. Aku tak ingin kau mati di sini,” Tuanku Sulaiman menjawab tegas.
“Tapi kita tidak tahu siapa mereka. Saya sempat berpikir kalau ini hanya jebakan. Ini suatu pancingan agar Tuanku keluar dari persembunyian. Mereka bisa jadi mata-mata musuh yang ingin membongkar penyamaran kita.”

Belum sempat kata-kata Sutan Pandeka selesai, dari balik pepohonan di sekeliling mereka muncul belasan tentara Belanda dengan bedil siap ditembakkan. Di bawah cahaya bulan yang samar-samar, Sutan Pandeka melihat ada satu orang pribumi di antara para kumpeni itu. Tentara-tentara itu lalu menyalakan obor.

“Masya Allah!” Kedua pejuang Paderi itu berseru kaget. Benar rupanya dugaan Sutan Pandeka. Ini jebakan. Mereka telah dicido!

“Bunuh mereka!” Lelaki pribumi berpakaian hitam-hitam memberi perintah.

“Tahan!” Sutan Pandeka menyahut. Ia ingin mencoba taktik lain. Mereka masih dalam penyamaran. Lagipula Tuanku Sulaiman berpakaian seperti rakyat jelata. Belum ada yang tahu siapa mereka sesungguhnya. Kecuali jika ada yang telah berkhianat pada Tuanku Imam Bonjol.

“Tidak perlu mencoba meneruskan penyamaranmu, Sutan,” suara lelaki pribumi itu bercampur tawa. “Kami sudah tahu siapa kalian berdua. Kalian utusan Imam Bonjol yang akan berunding dengan para pemimpin adat di Pagaruyung. Dan kami tidak ingin itu terjadi. Kami tidak ingin kalian berdamai. Kami lebih suka kalian terus bertempur satu sama lain. Tamatlah riwayat kalian malam ini!”

Tubuh Sutan Pandeka dan Tuanku Sulaiman manggariti karena marah. Tak disangka mereka justru tertangkap karena pengkhianatan yang dilakukan sesama kaum pribumi.

“Kalian akan menerima balasan setimpal,” ancam Tuanku Sulaiman akhirnya. “Setidaknya dari anak cucu kami kelak. Kalian tak layak hidup di ranah minang ini. Jiwa kami boleh kalian ambil. Tapi tidak semangat juang kami.” Seiring dengan itu ia menerjang maju, memanfaatkan saat-saat terakhir perjuangannya. Sutan Pandeka mengikuti tindakan Tuanku-nya.

Suara letusan bedil-bedil Belanda memecah kesunyian rimba raya Tanah Datar.
Kedua utusan yang dikirim Tuanku Imam Bonjol itu tak pernah sampai ke Pagaruyung.

@@@

Epilog
Pada 16 Desember 1823, Letkol Raaff kemudian diangkat menjadi Residen Belanda di Minangkabau menggantikan Du Puy. Ia berhasil membuat perjanjian damai di Bonjol. Namun, diam-diam ia juga mengkonsolidasikan pasukan. Dan bahkan menggempur Guguk Sigadang dan Koto Lawas. Pemimpin Paderi, Tuanku Mensiangan terpaksa hijrah ke Luhak Agam. Paderi semakin kuat karena saat itu pasukan adat mulai berpihak ke mereka.

Raaff meninggal lantaran sakit. Penggantinya, de Stuers memilih jalan damai. Langkah ini ditempuhnya karena Belanda mengkonsentrasikan kekuatan untuk menghadapi pemberontakan Diponegoro. Stuers menugasi seorang Arab, Said Salim al-Jafrid, untuk menjadi penghubung. Tanggal 15 Nopember 1825, perjanjian damai pun diteken antara de Stuers dan Tuanku Keramat. Suasana Ranah Minang kemudian relatif tenang.
Namun pengkhianatan terjadi lagi. Kolonel Elout menggempur Agam dan Lintau. Ia juga menugasi kaki tangannya, anak Tuanku Limbur, untuk membunuh Tuanku Lintau dengan bayaran. Pembunuhan terjadi pada 22 Juli 1832. Usai Perang Diponegoro itu, tentara Belanda dikerahkan kembali ke Sumatera Barat. Kota demi kota dikuasai. Benteng Bonjol pun bahkan berhasil direbut. Namun sikap kasar tentara Belanda pada tokoh-tokoh masyarakat yang telah menyerah, membuat rakyat marah. Ini membangkitkan perlawanan yang lebih sengit.

Pada 11 Janurai 1833, Paderi bangkit. Secara serentak mereka menyerbu dan menguasai pos-pos Belanda di berbagai kota. Benteng Bonjol berhasil mereka rebut kembali. Seluruh pasukan Letnan Thomson, 30 orang, mereka tewaskan. Belanda kembali menggunakan siasat damai lewat kesepakatan "Plakat Panjang", 25 Oktober 1833. Namun Jenderal Van den Bosch kembali menyerbu Bonjol. Namun ia gagal, 60 orang tentaranya tewas. Kegagalan serupa terjadi pada pasukan Jenderal Cochius.

Namun serangan dadakan berikutnya menggoyahkan kubu Paderi. Masjid dan rumah Imam Bonjol terbakar. Paha Imam Bonjol tertembak. Ia juga terkena 13 tusukan, meskipun ia sendiri berhasil menewaskan sejumlah serdadu. Dalam keadaan terluka parah, Imam Bonjol terus memimpin Paderi dari tempat perlindungannya di Merapak, lalu pindah ke Ladang Rimbo, dan terakhir Bukit Gadang.

Benteng Bonjol kembali jatuh pada 16 Agustus 1837. Belanda kemudian menawarkan perundingan damai. Saat itulah Tuanku Imam Bonjol dapat dijebak dan kemudian ditangkap pada 28 Oktober 1837. Imam Bonjol kemudian diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat, lalu dipindah ke Ambon pada 19 Januari 1839. Pada 1841, ia dipindahkan ke Manado dan wafat di sana pada 6 Nopember 1864.

Tuanku Tambusai melanjutkan perlawanan dan berbasis di Mandailing -Tapanuli Selatan. Tuanku Tambusai inilah yang menjadikan Mandailing sebagai daerah berbasis muslim.[]

Keterangan :
pekan : pasar
langau : lalatrandai : seni yang memadukan silat, tari dan cerita
picak : lempeng, datar
nagari : negeri, pembagian daerah menurut adat
kapia : kafirantah : entah
pusung : obor
wa-ang : kamu
dicido : ditipu
manggariti :menggigil menahan marah

No comments: