Thursday, July 7, 2011

Datuk Rajo Malano



SALIM baru saja turun dari bendi ketika Upik adiknya bergegas menuruni tangga batu rumah gadang dan bersorak-sorak kegirangan. Gadis itu berlari-lari kecil melintasi halaman sehingga jilbab putihnya bergoyang-goyang. Bibir Salim menyungging senyum. Upik sudah 18 tahun, tapi perangainya tak berubah juga. Masih juga seperti anak-anak.

“Biar Upik yang angkat Uda,” gadis itu mengambil alih dua kantong plastik dari tangan Salim sambil menunggu udanya membayar bendi. Kemudian Salim menyandang ranselnya yang besar.

“Ada apa sih, Pik? Kenapa Bundo meminta Uda bergegas pulang? Bundo kan tahu sekarang Uda sedang butuh konsentrasi untuk menyelesaikan TA,” Salim menatap adik semata wayangnya. Sejak Salim kuliah di Padang, ia selalu mencemaskan adiknya itu. Mereka jadi jarang bertemu dan Salim sulit mengontrol semua kegiatannya. Untunglah bulan puasa tahun lalu Upik sudah mau memakai jilbab.

Upik bersikap seolah-olah tidak mendengar pertanyaan udanya. Tadi malam, sesudah menelepon Salim, Bundo mengingatkan agar Upik tidak bicara apapun sebelum Bundo sendiri yang bicara. Jadi sekarang dia diam saja.

“Hei, Upik tak mendengar Uda bertanya?”

Upik memain-mainkan kantong di tangannya. Ia menunduk saja ke bawah. Tapi akhirnya diangkatnya juga kepalanya sampai matanya menangkap sorot mata Salim.

“Sebentar lagi Uda juga akan tahu. Jadi ya percuma. Kalaupun Upik paksa, nanti penjelasannya tidak akan memuaskan.”

Mereka berjalan terus menuju rumah bagonjong. Di depan tangga Salim melihat sepasang sepatu milik mamaknya. Salim yakin karena ia hapal betul model sepatu mamaknya itu. Salim mengerutkan keningnya. Mamak? Ada apa pula mamaknya jauh-jauh dari Jambi pulang ke Payakumbuh. Tak biasanya adik Bundonya itu rela meninggalkan kedai kainnya kalau tak ada keperluan yang penting. Pasti ada apa-apa, pikir Salim.

Pemuda itu menaiki tangga batu rumahnya dengan hati bertanya-tanya. Tiba-tiba dia berhenti dan memegang bahu Upik. Karena kaget hampir saja si Upik menjerit.

“Ssstt! Pik, apa kepulangan Uda ini ada hubungannya dengan Nisa?”

Nisa adalah putri sulung mamaknya. Usianya dua tahun di atas Upik. Sekarang jadi bidan desa di Situjuh Batur, hanya sekali naik mobil dari rumahnya. Sesekali Nisa datang berkunjung ke Koto Nan Gadang, melihat bakonya. Dulu Salim sempat mendengar-dengar dirinya mau dijodohkan dengan Nisa. Itu yang sekarang ditakutkannya. Jangan-jangan karena kuliahnya hampir selesai, mamaknya ingin cepat-cepat menikahkannya dengan Nisa.

“Ah, Uda ko ge-er bana ma! Siapo nan nio jo Uda buruak ko?” Upik terkekeh.

“Indak usah takuik, Uda sayang. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan uni Nisa. Kepulangan Uda kali ini Upik rasa akan jadi kesempatan yang baik sekali untuk Uda.”

“Kesempatan, kesempatan apa, Pik?” Kening Salim berkerut lagi. Dipandanginya wajah Upik dengan bingung. Adiknya itu benar-benar sukses membuatnya penasaran. Upik tertawa-tawa senang melihat udanya kebingungan. Diacak-acaknya rambut ikal Salim.

“Yang Upik dengar, Uda mau diangkat jadi datuk. Bagaimana, lai jelas?” Upik merapikan jilbabnya dan menunggu reaksi Salim.

Salim terpaku. Datuk? Aku dipilih jadi datuk?
Seulas senyum terukir di wajah Salim. Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah! Akhirnya Engkau berikan juga kesempatan itu, doa Salim dalam hati.

“Uda? Apa Uda akan berdiri saja di luar?”
Salim tidak mendengar lagi panggilan Upik dari jendela.

@@@

Mereka semua duduk di tikar pandan yang digelar di ruang tengah. Mereka sedang menunggu penuturan akhir dari Kaharuddin, mamak Salim.

“Jadi begitulah Salim. Kami para ninik mamak, bundo kanduang dan tuo-tuo di pasukuan kita sudah sepakat akan mengangkat engkau jadi datuk, menyandang gelar dan meneruskan tugas Datuk Rajo Malano yang terdahulu. Apakah engkau bersedia?”

Suara mamaknya terdengar sangat jelas di telinga Salim. Rapat kaum itu dihadiri orang-orang tua, ninik mamak, bundo kanduang dan keluarga-keluarga sesuku lainnya. Mereka semua menunggu jawaban dari Salim.

Salim melempar pandang mancari wajah Upik. Upik dilihatnya tersuruk dibalik wajah amak-amak. Sekilas dilihatnya Upik tersenyum dan mengangguk.

“Dengan segala senang hati, saya bersedia,” akhirnya Salim menjawab, disambut suara dengungan di mana-mana. Wajah-wajah di ruangan itu terlihat senang.

Sekarang kaum mereka punya datuk baru. Datuk yang akan menjadi tiang sangga dalam kaum, tempat bertanya tempat mengadu. Datuk yang akan mengangkat batang tarandam, tempat para kemenakan bergayut dan tempat orang kampung berunding. Datuk yang akan mengangkat harga diri suku Piliang di tengah suku-suku lain di Minang Kabau. Datuk itu bergelar Salim Datuk Rajo Malano.

@@@

Sudah lama sebenarnya Salim ingin merubah tatanan adat yang telah berlaku di kampungnya. Banyak adat dan kebiasaan yang sudah melenceng dari syariat Islam. Tapi ia sering tidak berdaya menghadapi para datuk-datuk itu. Ini menurutnya, itu pula kata para datuk. Jadinya, keras sama keras, buruk akibatnya.
Pernah suatu kali, ia mengkritik adat yang berlaku ketika khutbah Jum’at. Pulang dari sana datang ke rumahnya seorang datuk tua berpakaian hitam dengan kopiah berlilik. Bundo-nya sampai-sampai bertindak tidak patut waktu itu. Beliau menerima saja semua omelan orang tua itu tentang anaknya. Dikatakannya perempuan itu tidak pernah mengajari anaknya etika sopan santun. Dan yang membuat Salim sakit hati, bundonya diharuskan meminta maaf secara adat pada para datuk yang duduk di Kerapatan Adat Nagari.
Secara adat, fungsi datuk mulai dilaksanakan setelah acara Batagak Pangulu diadakan. Batagak Pangulu adalah sebuah upacara penobatan gelar para datuk yang baru diangkat yang diadakan dalam sebuah baralek gadang. Sejak hari itu, kemana-mana Salim memakai kopiah berlilik, sebagai tanda kalau dirinya seorang datuk. Terlebih-lebih dalam acara-acara adat, pakaian yang dikenakan harus sesuai dengan ketentuan adat yang sudah turun temurun. Pakaian pergi baralek berbeda dengan pakaian untuk pergi melihat kematian. Dan yang paling terasa, dimana-mana, tua muda, besar kecil akan memanggilnya ‘Datuk’.

@@@

Tugas pertama Salim sebagai seorang datuk datang tiga bulan kemudian. Ketika pulang kampung begitu wisudanya selesai, ke rumahnya datang seorang wanita sebaya bundonya. Wanita itu langsung minta bertemu dengan Salim.

“Begini Datuk, anak saya si Husna kan baru tamat dari AQABAH Bukittinggi. Kemarin ada anak muda datang ke rumah, nampak-nampaknya teman sekolah si Husna juga waktu SMA. Anak muda itu ternyata mau mengambil si Husna jadi istrinya.”

Datuk Rajo Malano tersenyum saja. Dalam Islam, tradisi seperti ini tidak ada. Sebenarnya orang tua saja sudah cukup buat memutuskan perkara pernikahan anak gadis mereka. Tak perlu minta ijin atau memberi tahu mamak suku segala. Kadang-kadang urusannya malah makin berbelit-belit bila sudah di tangan sang datuk. Banyak perkara dan syarat yang harus dipenuhi sebagai syarat adat. Pepatah minangnya, banyak pintak yang harus diisi dan kandak yang harus diberi. Padahal, nikah merupakan pekerjaan mulia yang harus disegerakan.

“Baguslah itu, Tek. Kapan rencananya?” jawab Salim.

Bundo dan etek Sanin, ibu si Husna itu, jelas-jelas tercengang. Bukan begitu seharusnya jawaban seorang datuk.

“Tapi Datuk, tentu saja kita harus berunding dulu mengenai uang jemputan…”
“Uang jemputan?” Salim menyela. Ia segera bisa menebak sesuatu.

Etek Sanin dengan risau berkata, “Benar Datuk. Calon si Husna itu, si Amin namanya, orang asli Pariaman. Tapi masalahnya tidak sampai disitu saja. Si Husna dan si Amin tidak ingin kawin secara adat. Mereka katanya ingin, apa itu, etek hampir lupa, walim…”

“Walimahan, Tek,” ujar Salim membantu.
“Ya, betul walimahan. Dan herannya si Amin tidak ingin uang jemputan pula. Bahkan dia mau memberi kita uang lima juta, katanya untuk walimahan itu.”

Dalam hati Salim tersenyum. Alhamdulillah, sudah mulai ada keluarganya yang menerapkan sunah Rasulullah. Sekarang tugasnya tinggal meyakinkan eteknya itu bahwa keputusan si Husna sudah tepat.
“Sebenarnya Tek, keputusan anak dan calon menantu Etek itu sudah benar. Saya sebagai orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting dalam kaum kita, setuju-setuju saja.”

Kedua wanita setengah baya di depan Salim cuma bingung mendengar ucapan datuk mereka.

@@@

Akhirnya, walau banyak protes dan sikap-sikap kontroversial di beberapa pihak, pernikahan Husna dan Amin berhasil dilaksanakan tanpa insiden apapun. Tapi banyak orang kampung mengatakan, tidak layak kemenakan Datuk Rajo Malano dikawinkan dengan cara sederhana seperti itu. Tapi kehadiran Salim dalam acara walimahan hanya dengan mengenakan baju koko, membuat merah telinga bundo.

“Ondeh, Salim! Datuk macam apa kau ini? Dalam baralek kampung tak pantas seorang datuk terhormat seperti engkau datang cuma berbaju gunting cino itu. Apalagi kau datang ke baralek kemenakanmu. Apa kau bermaksud mempermalukan Bundo?”

Saat itu Salim cuma tertunduk. Ia tahu tabiat ibunya kalau sedang marah. Pantang dibantah. Tapi sudah saatnya Salim meluruskan pemahaman ibunya.

“Maafkan Salim, Bundo. Tapi Salim tidak ingin terlalu disanjung-sanjung orang kampung secara berlebihan. Seorang datuk seharusnyalah lebih merakyat. Salim tidak ingin seperti menara gading, yang berada tinggi di atas langit tapi tidak memberikan manfaat apa-apa pada orang lain kecuali rasa takut dan segan. Seorang datuk juga seorang manusia, yang bisa salah dan berdosa. Cukuplah fungsi seorang datuk lebih banyak pada usaha membimbing anak-kemenakan dan mengurus kampung halaman. Yang lebih penting adalah bagaimana mengembalikan pepatah kita: Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Syara’ mangato, adat mamakai, dalam arti yang sebenarnya. Yang di atas itu syara’, Bundo, bukan adat. Adat lah yang harus menyesuaikan diri dengan syara’, bukan sebaliknya.

“Salim tidak ingin nama datuk cuma terpakai dalam acara baralek, dalam rapat-rapat adat dan dalam sapaan orang-orang kampung.

“Salim ingin jadi datuk yang sesungguhnya, Bundo; yang peduli pada perkembangan anak-kemenakan, yang bertanggung jawab secara utuh terhadap kerusakan moral generasi muda dan yang paling penting, tidak memanfaatkan kedudukan datuk untuk menguras harta milik kaum dan kekayaan anak-kemenakannya. Salim cuma ingin merubah segala sesuatunya, Bundo. Dan itu yang sekarang mulai Salim lakukan.”

Setelah berkata begitu, Salim beranjak dari kursi dan melangkah ke kamarnya. Tinggallah bundo seorang diri dengan perenungannya.

@@@

Malam hari sebelum tidur, Bundo kembali mengingat-ingat semua kata-kata Salim siang tadi. Uraian panjang lebar Salim mengena juga di hatinya. Pengalaman hidupnya yang hampir enam puluh tahun sedikit banyak membenarkan apa yang dikatakan anaknya itu. Matanya sudah banyak melihat, telinganya sudah banyak mendengar dan hatinya sudah banyak merasakan apa yang sudah terjadi selama ini di kampung halamannya. Seorang datuk tak lebih cuma sebuah simbol keagungan, yang tak memberi perubahan apa-apa lagi pada orang kampung. Kerusakan moral masyarakat, mulai jauhnya pemuda dari langgar dan surau serta menguapnya tradisi anak-anak gadis berbaju kurung dan berkerudung, sesungguhnya juga merupakan tanggung jawab seorang datuk, bukan hanya tanggung jawab para ulama.

Yang terjadi adalah sebaliknya. Ada datuk yang malah bertindak semena-mena, melarang ini, menyuruh itu sementara periuk nasinya ditanggung kemenakan-kemenakannya. Istri dan keluarga tak terurus dan orang kampung terabaikan. Sering menangguk di air keruh dan hidup bagai parasit di tengah-tengah masyarakat.
Dalam hati bundo tersenyum. Menurun benar watak mendiang ayah si Salim pada anaknya itu. Sudah saatnya semuanya dikembalikan pada tempat yang semestinya.

Bundo bangkit dari dipannya meninggalkan Upik yang sudah lama terlelap. Perlahan ia melangkah keluar dari kamar dan mendapati anak bujangnya tengah khusyuk membaca al-Qu’an. Mungkin pertengkaran siang tadi telah membuat hati anaknya gundah.

“Salim,” Bundo berdiri di depan Salim. Salim menghentikan tilawahnya dan menatap bundonya.
“Bundo belum tidur?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Maafkan Bundo, Salim,” Bundo mendekat, matanya basah. Salim bangkit dan memeluk bundonya dengan haru.

“Salim yang seharusnya minta maaf, Bundo.”

Dari balik kain gorden kamar Bundo, Salim melihat wajah Upik menyembul. Adiknya itu tersenyum sambil memberi dua acungan jempol buatnya.

@@@

Salat Jum’at baru saja usai.

Salim hendak beranjak dari masjid ketika Datuk Rangkayo Basa datang menghampirinya. Salim tersenyum dan menyalami ketua KAN itu.

“Apa kabar, Datuk?” Salim menyapa lebih dulu.

Datuk Rangkayo Basa sudah hampir 70 tahun. Dari umurnya yang sebanyak itu, ia sudah jadi datuk selama 60 tahun. Jadi sudah cukup banyak dia mencoba asam garam kehidupan. Tapi sayang, sikapnya sangat keras dalam mempertahankan adat.

“Baik-baik saja Datuk Salim. Oh, begini, sebelum pulang ke rumah, saya mau mengajak Datuk mampir ke rumah saya. Kami ada acara mendoa sedikit.”

Salim mengangguk-angguk.

“Baguslah kalau begitu, Datuk. Langkah suok kiranya. Tapi ngomong-ngomong acara mendoa dalam rangka apa, Datuk? Apa Datuk mau berminantu?” ujar Salim tertawa, mencoba bergurau.

“Oh, tidak Datuk Salim. Hari ini kan bertepatan seratus hari meninggalnya ibu si Aminah. Ya, manyaratu lah tepatnya.”

Wajah Salim langsung berubah. Ini salah satu kebiasaan yang harus segera diperbaikinya. Dalam Islam tidak ada istilah acara peringatan hari ketujuh, hari keseratus atau hari keseribu kematian seseorang. Apalagi acara mendoa itu selalu disertai acara makan-makan dengan mengundang kaum laki-laki sekampung. Bukannya membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan, kebiasaan seperti itu justru memberatkan mereka. Apalagi kalau yang meninggal itu misalnya suami atau anak lelaki mereka yang selama ini jadi tumpuan hidup keluarga.

“Maaf Datuk. Kalau acaranya seperti itu, terus-terang saya tidak bisa menghadirinya. Karena dalam Islam tidak dibenarkan tradisi seperti itu,” ujar Salim tegas-tegas.

Wajah Datuk Rangkayo Basa merah padam. Lancang sekali anak muda itu menolak undangan darinya.
“Apa salahnya? Ini kan adat kita yang sudah berlaku jauh sebelum aku atau engkau sendiri dilahirkan?”
Kata-kata Datuk Rangkayo begitu pedas sampai ke telinga Salim. Ajaran Rasulullah jauh lebih tua dari itu, maki Salim dalam hati. Tapi ia tahu, sudah kepalang basah jika ia tiba-tiba mundur. Tekadnya sudah bulat sejak awal pertama diangkat jadi datuk. Ia sudah siap menerima resiko apapun dari pendiriannya itu.
“Maafkan saya, Datuk. Mulai saat ini anak-kemenakan saya, saya larang melakukan atau menghadiri acara-acara seperti itu. Acara itu tidak sesuai dengan dengan hati nurani dan bertentangan dengan yang saya anut. Permisi, assalamualaikum!”

Salim beranjak meninggalkan Datuk Rangkayo yang tampak kepanasan mendengar-kata-kata Salim. Darah Datuk Rangkayo mendidih, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat karena marah.

“Anak kurang ajar! Umur belum setahun jagung, darah belum setampuk pinang, sudah berani menentang adat negeri ini. Awas kau, akan kuperkarakan kau nanti di rapat adat!”

Kata-kata Datuk Rangkayo Basa cukup keras didengar orang-orang, tapi tak sedikitpun sampai ke telinga Salim yang sudah jauh dari masjid.

@@@

Bundo Salim tidak tahu menahu tentang pertengkaran anaknya dengan Datuk Rangkayo hari Jum’at tersebut. Ia baru tahu ketika suatu siang, Upik berlari tergesa-gesa menaiki tangga batu.

“Bundo! Bundo! Uda Bundo! Uda!”

Bundo yang sedang menjerang nasi di dapur, terkejut mendengar suara Upik yang seperti dikejar-kejar hantu.
“Ada apa, Pik? Kenapa kau ini?” Bundo bertanya dengan perasaan was-was.

Upik dengan suara terisak-isak dan mata basah langsung memeluk Bundonya.

“Uda Salim, Bundo! Uda Salim ditikam orang di pasar!”
Kata-kata Upik seperti suara petir sampai ke telinga Bundo.
“Apa? Apa yang terjadi, Pik?”

Upik tidak bisa menjawab, karena tiba-tiba pelukannya melonggar dan ia jatuh pingsan. Bundo cuma bisa berterik-teriak minta tolong.

@@@

Bulan Nopember, hujan yang turun tiada henti menyebabkan ranah minang dilanda bencana. Solok dan Pasaman dilanda banjir besar, Pesisir Selatan dan Padang Panjang ditimpa tanah longsor dan galodo. Ratusan jiwa melayang dan ratusan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Salim yang baru saja keluar dari rumah sakit setelah tiga minggu dirawat intensif, cuma bisa melihat beritanya dari televisi.. Ia sering menangis sendirian menatap rumah-rumah yang hancur dan potongan-potongan tubuh yang pucat dan busuk bercampur lumpur yang ditayangkan televisi. Hatinya pilu mendengar jerit tangis anak-anak kecil kelaparan yang kehilangan ayah ibunya…

Bagian dirinya yang lebih dalam menjerit meneriakkan bahwa ia termasuk satu diantara sekian banyak orang yang bertanggung jawab terhadap malapetaka itu. Bukan kerusakan alam yang menyebabkan semua bencana tersebut. Tapi peringatan Allah-lah yang telah berlaku. Allah telah menurunkan peringatanNya pada negeri yang sudah mulai meninggalkan ajaranNya, melecehkan sunah nabiNya. Surau dan masjid yang dulu ramai sekarang sepi bahkan kadang tak terurus. Jemaahnya sudah menjelma menjadi pengunjung setia lapau-lapau yang menyediakan kartu remi, kartu koa, domino, kaset VCD porno dan play stasion. Di bulan Ramadhan bertebaran warung-warung kelambu. Bar-bar, diskotik-diskotik mulai tumbuh bak cendawan di musim hujan. Anak-anak gadis mulai menanggalkan baju kurung mereka dan menggantinya dengan baju-baju ‘kutung’ yang lebih pantas dipakai adik-adik mereka. Narkotika meruyak, alkohol sudah jadi kebanggaan. Suara azan kadang hilang lenyap ditelan suara-suara musik dari kedai-kedai kaset dan pasar.

Salim ingin mengembalikan mereka. Salim ingin negerinya kembali disebut serambi mekah, negeri seribu masjid dan tempat orang-orang jauh datang untuk belajar mengaji.

Tapi tangan Salim terlalu kecil untuk mengemban itu semua.[]


Air Tawar, 20 Ramadhan 1421 H.

Keterangan bahasa Minang :
uda = kakak laki-laki
bundo = ibu
bagonjong = bergonjong
mamak = paman, saudara laki-laki ibu
bako = keluarga ayah
ge-er bana ma = geer sekali
siapo nan nio jo Uda buruak ko = siapa yang mau dengan Uda jelek ini
indak usah takuik = tidak usah takut
uni = kakak perempuan
datuk = gelar kebangsawanan
ninik mamak = para datuk
bundo kanduang = kaum wanita yang dihormati
tuo-tuo = orang-orang tua
pasukuan = suku
batagak pangulu = acara penobatan penghulu/datuk
baralek gadang = pesta besar
pintak = permintaan
kandak = kehendak, keinginan
etek = panggilan untuk wanita yang sebaya dengan ibu atau saudara perempuan ibu
ondeh = aduh
gunting cino = koko
menangguk = menjala
mendoa = berdoa yang diiringi dengan acara jamuan makan
langkah suok = langkah kanan, beruntung
minantu = menantu
manyaratu = memperingati hari keseratus kematian seseorang
galodo = gempa bumi
lapau-lapau = warung-warung


  • Dimuat dalam Majalah Annida No. 13/X/16 April 2001
  • Termasuk salah satu cerpen dalam buku Merajut Cahaya, Kumpulan Cerpen Terbaik 10 Tahun Annida Berkarya (Pustaka Annida, 2001)

No comments: