Thursday, July 7, 2011

Datuk Rajo Malano



SALIM baru saja turun dari bendi ketika Upik adiknya bergegas menuruni tangga batu rumah gadang dan bersorak-sorak kegirangan. Gadis itu berlari-lari kecil melintasi halaman sehingga jilbab putihnya bergoyang-goyang. Bibir Salim menyungging senyum. Upik sudah 18 tahun, tapi perangainya tak berubah juga. Masih juga seperti anak-anak.

Paderi



MATAHARI tepat di ubun-ubun ketika pedati beratap daun rumbia itu berhenti di bawah sebuah pohon beringin besar yang tumbuh tak jauh dari jalan. Suara ganto yang sepanjang perjalanan jadi musik pengusir sepi ikut pula berhenti. Sutan Pandeka, lelaki pemilik gerobak kayu itu melompat turun sambil melihat posisi matahari. Sudah masuk zuhur, pikirnya. Setelah membelitkan kain sarung di pinggang, ia memeriksa keadaan kerbaunya yang sejak dari Bukit Ngalau mulai banyak perangai.

Wednesday, July 6, 2011

Seperti Purnama


(Majalah Ishlah No. 77/IV/1997)


“Jadi, mungkin nanti malam Mas pulang agak telat.”

Imron memasang helm dan menatap Ines.

“Lembur lagi?” tanya Ines cemberut. Wanita itu memberikan rantang bekal makan siang pada suaminya.

“Iya, sekarang sedang banyak kerjaan. Sementara montir yang ada tidak seberapa.”

“Kenapa Pak A Seng itu nggak nambah karyawan saja, Mas?”