Tuesday, June 14, 2011

Joni Tak Pulang

Mayat itu masih baru. Tampak putih di antara apungan sampah yang hitam dan kotor. Teronggok secara mencolok di kali tepat di bawah jembatan kecil di pinggir perkampungan yang sepi.

Saat itu Minggu pagi, pukul enam lewat sedikit. Jalanan belum begitu ramai. Seorang tukang ojek baru saja menyandarkan motor bebeknya di ujung jembatan ketika mendadak ia melihat sosok putih terapung itu. Merasa curiga, ia menuruni tepian kali yang rendah dan mendekati sosok mencurigakan itu. Setelah yakin itu memang mayat manusia, tukang ojek itu naik ke jalan raya dan mulai berteriak.

Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, daerah kumuh itu ramai seperti pasar tumpah.
Untungnya, polisi cepat datang ke lokasi. Elemen keamanan negara yang digaji dengan uang rakyat itu langsung mengamankan TKP dan memeriksa identitas si mayat. Sayangnya, tidak ada apa pun yang bisa dijadikan petunjuk kecuali bahwa mayat telanjang itu berjenis kelamin laki-laki dengan tinggi badan 1,7 meter.

Polisi akhirnya membawa mayat itu ke RSCM untuk divisum. Si tukang ojek dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

***

Empat jam sebelum mayat itu ditemukan.


“Lepaskan pakaiannya, lalu bakar. Kita tidak ingin meninggalkan jejak!”
“Bagaimana dengan polisi?”
“Jangan takut. Tidak ada yang tahu anak itu pergi dengan kita. Lagi pula ini sebuah kecelakaan. Kita bukan dengan sengaja membunuhnya. Ayo, buang mayatnya!”

Sedan hitam itu berhenti di atas jembatan di tepi sebuah kali yang dangkal airnya. Dari dalam mobil itu sebuah mayat tanpa busana dijatuhkan tepat ke bawah jembatan. Mobil itu lalu pergi.

***

Sepuluh jam sebelum mayat itu ditemukan.


“Saya takut, Pak Dokter.”

Joni terbaring di ranjang operasi. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa takut. Ini jelas bukan rumah sakit, tapi semua peralatan kedokteran yang diperlukan untuk tujuan malam itu ada di sana. Orang yang membawanya ke tempat itu pasti kaya sekali, sehingga bisa menyewa tim dokter dan peralatan operasi yang lengkap seperti itu.

“Tenang saja, Joni. Setelah ini kamu tidak akan kesulitan keuangan lagi. Setidaknya untuk beberapa bulan. Kamu bahkan bisa melunasi utang-utang ibumu. Operasinya tidak akan lama. Setelah itu kamu akan bisa hidup seperti sedia kala.” Seorang lelaki umur tiga puluhan membujuknya.

Joni mengangguk. Membayangkan uang lima puluh juta yang akan diterimanya nanti, membuat Joni menjadi tenang. Lelaki kaya itu lalu pergi. Tim dokter lalu menyuntikkan sesuatu ke tubuh Joni, membuat kesadarannya berangsur-angsur hilang sehingga ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Empat orang tim dokter bekerja dengan cekatan. Mereka menyayat, menggunting, dan memotong. Mengambil yang mereka inginkan, kemudian menyambung dan menjahit kembali semua sayatan. Semua selesai dalam waktu kurang dari dua jam.

Mereka hanya perlu menunggu anak muda itu sadar kembali beberapa jam kemudian. Lalu mereka akan membayar apa yang telah mereka ambil, dan semuanya selesai.

Tapi ternyata Joni tak pernah bangun lagi dari tidurnya. Ia begitu lelap dalam tidurnya yang panjang. Tim dokter dan si orang kaya panik. Berbagai cara yang ada dalam dunia kedokteran telah dicoba. Tapi hasilnya nihil. Joni benar-benar telah berlalu.

***

Dua belas jam sebelum mayat itu ditemukan.


Joni gelisah. Ini sudah hampir magrib, tapi orang yang ditunggu-tunggunya belum juga kelihatan batang hidungnya. Ini sudah hampir satu jam. Dan, Joni takut bila orang itu membatalkan janjinya. Jalan Melawai sedang dipuncak kesibukan.

Lalu-lintas sedang macet. Syukur-syukur mereka terlambat karena macet, pikir Joni. Ya, Tuhan, jangan batalkan rencana ini, jeritnya ke arah langit.

Sebuah sedan hitam melambat dan berhenti di depan Joni. Kaca samping dekat kursi penumpang terbuka perlahan-lahan.

“Hai, kamu Joni, ya?” Seorang lelaki muda, mungkin tidak lebih 30 tahun, berpenampilan mewah, menyapa Joni. Ketika Joni mengangguk, ia tersenyum. “Ayo, naik. Tidak apa-apa. Jangan takut.”

Joni kebingungan. Tak mungkin salah. Inilah orang yang ditunggu-tunggunya. Kalau tidak, tidak mungkin mereka akan mengenali dirinya. Jadi ia naik saja ke sedan mewah itu.

***

Dua puluh empat jam sebelum mayat itu ditemukan.


Hari Sabtu, pukul enam pagi. Hari belajar terakhir buat Joni sebelum ia menempuh Ujian Akhir Nasional. Keluar dari kamarnya, Joni mencari ibunya di dapur.

“Mak, ntar malam Joni mau nginep di rumah Arfan. Mau belajar bareng. Insya Allah pulang besok, pagi-pagi banget.”

Sebenarnya Joni berbohong. Ia tidak ada janji dengan Arfan. Ia ada janji dengan seseorang. Seseorang yang akan memberinya uang banyak sekali.

“Trus, gimane ame uang ujian elu, Jon?”
“Mak tenang aja. Semuanya akan Joni beresin. Pokoknya Mak nggak boleh mikirin masalah itu lagi. Mak janji, kan?”

Mak Joni mengangguk. Ia tak tahu, di dalam tas Joni yang lusuh, ada potongan iklan dari sebuah koran terbitan Ibu Kota.

Dibutuhkan sebuah ginjal. Berani bayar 50 juta. Yang berminat silakan hubungi 08526743251[]

Jakarta, 31 Mei 2005

No comments: