Wednesday, February 23, 2011

Sebuah Malam Tanpa Hujan

Tetesan air hujan seperti panah-panah bening kecil yang lebur saat menimpa aspal di ruas Jalan Sudirman. Langit kelam karena awan-awan kelabu menutupi langit. Hanya tersisa sedikit celah untuk diterobos cahaya matahari. Hawa dingin berbaur dengan angin, memaksa orang-orang merapatkan jaket dan pakaian hangat ke badan mereka. Payung-payung dikembangkan. Para pria melindungi kepala dengan map atau tas kantor, sembari berlari-lari kecil mencapai halte bus. Saat itu jam pulang kerja, sudah lewat pukul tujuh belas, di minggu pertama di bulan Januari.



Alisya lupa membawa payung. Ia juga tidak ingat membawa sweaternya ketika berangkat ke kantor tadi pagi. Padahal ia sudah menyiapkannya di keranjang dekat pintu. Dan inilah akibatnya. Jilbab dan bajunya basah terkena air hujan. Alisya melompat ke halte, dan ia beruntung dapat sedikit tempat berteduh. Saat merapikan jilbab yang basah, HP-nya bergetar. Dari mamanya, di Bandung. Mamanya kembali bertanya tentang suaminya.


“Belum, Ma,” sahut Alisya. “Alisya tidak apa-apa, kok. Alisya masih di jalan. Mama tenang saja. Alisya janji, masalah ini akan berakhir happy ending.” Pembicaraan itu berakhir. Alisya menarik napas, lalu melepaskannya. “Ya, Allah... kembalikan suamiku,” desisnya dengan mata terpejam.

Ini hari ketujuh Imran pergi dari rumah. Sudah seminggu. Tidak ada telepon, tidak ada SMS. Yang tersisa hanya SMS dari Imran sebelum pergi pagi-pagi tujuh hari yang lalu. Kata-kata penuh kekecewaan. Kata-katanya serasa akan membuat Alisya jatuh pingsan tiap kali mengingatnya kembali. “Aku akan mengambil keputusan yang terbaik untuk kita, tujuh hari dari sekarang. Selama itu, jangan mencoba mencariku.”

Hujan makin deras. Halte itu makin padat dan rapat. Kristal di mata Alisya pecah kembali. Hari pertama Imran pergi ia masih kuat. Tinggal sendirian di rumah, tidak mengapa baginya. Toh, bertahun-tahun sebelum menikah, ia sudah biasa hidup jauh dari keluarganya. Hari kedua Alisya masih tenang-tenang saja. Ia ke kantor dan sempat melupakan pertengkarannya dengan Imran karena sibuk dengan deadline tugas-tugasnya di kantor. Tapi pada hari ketiga, ketika mendapati dirinya bangun sendirian di ranjang mereka, Alisya mulai gelisah. Hatinya tidak tenang dan ia mulai dirundung ketakutan. Ia duduk lama sekali di teras, tempat suaminya biasa minum kopi sambil membaca koran pagi. Bermenit-menit ia melamun dan berharap-harap suaminya akan muncul membuka gerbang dan memeluknya.

Hari ketiga itu ia sibuk mengirim SMS dan menghubungi HP Imran via telepon kantor. Tapi dua-duanya gagal. Pesannya tidak masuk dan panggilan ke nomor HP Imran selalu dijawab voice mail. Kegelisahannya makin menjadi-jadi setelah ia menanyai Iqbal, teman sekantor suaminya. Kata Iqbal, Imran mengambil cuti selama seminggu. “Saya pikir kalian sedang di Bali, bulan madu lagi,” kata Iqbal setengah bercanda. Hari ketiga itu Alisya kembali mendapati rumah mereka kosong. Ketika malam tiba, ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata.


***


Semuanya bermula karena sebuah SMS. SMS seseorang dari masa lalu. Suatu siang HP Alisya menerima sebuah pesan singkat. “Apa kabar, Ummi? Masih ingat Abi, nggak? Besok Abi ada di Jakarta. Urusan kantor. Eh, Abi belum jadi nikah, belum ada jodoh, sih. Sudah punya baby? Pasti cantik, ya, kayak umminya.”

Walau tidak menyebut nama, Alisya tahu siapa pengirim SMS itu. Sejak dulu, cuma ada satu orang yang memanggilnya ‘ummi’ dan menyebut dirinya ‘abi’. Alisya tersenyum. Ferry... Bang Ferry, mantan pacarnya yang ia dengar kerja di Singapura. Hmm... dibalas tidak, ya? Alisya ragu. Ah, sekadar ber-say hello saja masa nggak boleh sih? pikirnya kemudian.

Alisya membalas SMS Ferry. Mereka bertukar kabar dan itu mengingatkan Alisya akan banyak hal di masa lalu. SMS-SMS-an itu berlanjut sampai saat bubaran kerja. Alisya membalasnya setengah harap setengah takut. Ini selingkuh nggak, sih? tanyanya pada dirinya sendiri.

Dan malapetaka datang ketika sebuah SMS masuk saat Alisya akan berangkat tidur malam itu.

“Ummi kangen nggak sih sama Abi? Kapan-kapan boleh kan ya, Abi telepon ke kantor Ummi?”

Alisya kaget. Ia tak menyangka Ferry akan mengirim SMS malam-malam begini. Padahal mereka sudah janji. Ketika Alisya membaca SMS itu, suaminya keluar dari kamar mandi.
“Dari siapa, Al?” tanya Imran. Ia naik ke ranjang membawa buku dan mulai membaca.
“Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma teman lama,” sahut Alisya tenang.

Nada suara Alisya yang canggung membuat Imran mengalihkan matanya dari buku. “Teman lamamu kan banyak,” katanya.

Alisya terdiam dan tampak menghindar. Ia tidak ingin menyebut nama Ferry. Suaminya tahu cerita masa lalunya dengan Ferry.

Dan sikap Alisya itu justru membuat Imran jadi curiga. “Sini HP-nya,” katanya meraih HP dari tangan Alisya. Dan lelaki itu sangat kaget ketika membaca pesan-pesan yang tersimpan di sana. Wajah Imran mendadak merah karena marah. Pertengkaran malam itu tak bisa dicegah...

Sesungguhnya, sejak membalas SMS Ferry yang pertama tadi pagi, Alisya sadar itu tidak boleh dilakukannya. Tapi godaan itu, rasa itu, seakan coba merayunya. Ia mengucap kalimat ampunan pada Allah berkali-kali. Alisya sadar, dirinya baru saja membuka celah perselingkuhan, celah pengkhianatan, celah dosa, celah ketidaksetiaan. Dia bukan gadis lagi, dia sudah punya suami. Lelaki lain tak berhak memeroleh perhatian darinya melebihi perhatiannya pada Imran.

Alisya cepat-cepat menetralisir masalah. Tapi percuma, Imran sudah membaca semua SMS Ferry yang lupa dihapus Alisya. Alisya cepat-cepat berkilah bahwa ia membalas SMS itu sekadar menghargai teman lama.

“Menghargai teman lama? Dengan topik kangen-kangenan seperti ini?” sentak Imran. “Bisa-bisanya kamu berbuat begitu! Jangan-jangan selama ini kamu selingkuh dengan Ferry di belakangku! Kamu menyesal ya, tidak jadi menikah dengannya?”

Alisya terisak. Ia berusaha meraih tangan suaminya dan mau menciumnya, tapi Imran menepisnya.

“Alisya minta maaf, Mas. Tapi Alisya tidak selingkuh dengan siapa pun!”

Imran melompat dari tempat tidur. Lagaknya membuat Alisya khawatir. “Memang tidak, tapi coba lihat SMS-SMS ini. Kata-katanya penuh gairah dan sarat dosa! Kamu munafik! Kamu tidak bisa dipercaya. Sudah berapa banyak perselingkuhan yang kamu lakukan di belakangku?”

Alisya turun dari tempat tidur dan berlutut di lantai. “Demi Allah, Mas. Sejak kita menikah, Alisya tidak pernah lagi memikirkan lelaki lain. Cuma Mas Imran yang ada dalam hati Alisya. Cuma Mas satu-satunya.”

“Oh ya? Lantas bagaimana kamu menjelaskan SMS-SMS ini?”
“Tapi itu kan kata-kata Ferry, bukan kata-kata Alisya.”
“Pendusta! Kalau kamu memang menghargai aku sebagai suami, seharusnya kamu tidak memberikan nomormu pada mantan pacarmu itu!”

Imran mengambil kunci mobil dan pergi dari rumah. Ia tidak kembali sampai pagi tiba. Ketika Alisya sedang membuat sarapan, Imran pulang dengan mata bengkak dan merah. Alisya semakin merasa bersalah. Setahunya Imran bukan lelaki peminum, tapi jika itu dilakukannya karena pertengkaran ini, Alisya benar-benar tidak akan bisa memaafkan dirinya. Imran tidak bicara apa pun pagi itu. Ketika Alisya sampai di kantornya ia menerima SMS itu. “Aku akan mengambil keputusan yang terbaik untuk kita, tujuh hari dari sekarang. Selama itu, jangan mencoba mencariku.”

Sejak pagi itulah Imran pergi meninggalkan rumah dan belum kembali, sampai hari ini.

***

Senja kian rapat. Halte tempat ia berdiri sudah sepi. Alisya tak hendak beranjak dari sana. Tak disadarinya kalau hujan rupanya sudah lama berhenti. Sebuah taksi lewat dan Alisya menghentikannya.

Selama perjalanan Alisya terbenam lagi dalam lamunan. Selama tujuh hari ini, di manakah Imran berada? Imran jelas tidak sedang di Jakarta. Dia pasti di luar kota. Mungkin pulang ke rumah orangtuanya di Palembang. Muncul keinginan di hati Alisya untuk menelepon ke Palembang, tapi Mama Imran tak boleh tahu masalah mereka. Mama Imran sangat menyayangi Alisya.

Rumah sepi. Imran ternyata belum kembali juga. Suasana rumah mencekam. Biasanya, kalau Alisya pulang terlambat, lampu-lampu sudah dihidupkan. Kalau mereka sedang dalam damai, Imran akan membukakan pintu, tersenyum padanya, mengambil alih tasnya, lalu memeluknya dengan mesra. Sekarang ia merasa kehilangan. Ia menyesal atas semuanya. Imran mungkin sudah benar-benar pergi.

Dengan putus asa Alisya masuk ke dalam pekarangan mereka yang kecil kemudian duduk di kursi teras, di bawah gelap. Ia menangis terisak-isak di sana.

Imran lelaki yang baik. Di mata Alisya, Imran adalah sosok pejuang. Dari kecil suaminya itu sudah menjalani hidup yang keras. Ayah Imran menikah lagi ketika Imran masih kelas dua SMP. Sejak itu, mama Imran lalu pontang-panting membiayai sekolah Imran dan ketiga adiknya. Sebagai anak sulung, Imran ikut andil mengasapi dapur keluarga. Ia mulai belajar bekerja. Dari mulai tukang semir sepatu, pelayan di kedai foto dan jadi penjual koran di lampu merah. Ketabahan hatinya dalam menjalani hidup itulah yang membuat Alisya jatuh hati. Ia yakin, Imran akan bisa jadi suami yang baik. Dugaannya tidak meleset. Imran sangat baik, tapi dari segi materi dia belum bisa diandalkan.

Satu setengah tahun waktu yang sebentar untuk menilai sebuah pernikahan. Ibu Alisya pernah berkata, akan banyak badai dan gelombang besar di tahun pertama dan kedua sebuah pernikahan. Pasangan yang kuat menjalani dua tahun penuh badai itu, akan bisa bertahan sampai tua. Yang tidak kuat atau menyerah, akan kandas tenggelam. Alisya ingin jadi istri yang tabah dan kuat. Ia merasa kecemburuan Imran cuma bentuk lain dari kekecewaannya pada ayahnya dan masa lalunya yang kurang beruntung. Entah kenapa, Alisya merasa, Imran akan kembali padanya. Perselingkuhannya tidak benar-benar pernah ada. Ia hanya terjebak ke dalam perangkap yang dibuat Imran. Tapi ia akui, ia juga salah.
Alisya bangkit dan mengeluarkan kunci untuk membuka pintu. Perasaannya terasa hampa saat menatap kegelapan ruang tamu keluarganya. Akankah malam-malamnya akan terus begini? tanyanya dalam hati. Ketika ia membuka pintu kamar dan menjangkau kontak lampu, sebuah tangan meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya ke ranjang yang tak terlihat. Alisya hendak berteriak minta tolong tapi mulutnya dibekap sehingga suaranya tak bisa keluar.

Wajah Alisya pucat pasi membayangkan apa yang akan menimpa dirinya. Tak terpikir olehnya rumahnya akan dimasuki perampok yang kini berniat memerkosanya. Muncul kembali di benaknya artikel-artikel tentang perkosaan yang sering ia tulis di majalahnya. Ia tidak mau. Ia tidak ingin ikut jadi korban!

Sekuat tenaga Alisya berusaha meronta dan berupaya melepaskan diri sekuat tenaga dari dekapan penyerangnya. Tapi... dalam pergumulan mereka, sesuatu membuatnya berhenti melawan. Aroma tubuh lelaki dalam gelap itu begitu akrab di penciumannya. Juga desah napas yang memburu di atas tubuhnya, begitu dikenalnya. Dengan yakin, Alisya menghentikan perlawanannya lalu memasrahkan dirinya pada lelaki itu.

Malam itu sama sekali tidak turun hujan.[]

2 comments:

Rini Nurul Badariah said...

Aku tahu ilustrasi fotonya dari film apa, hahaha ...

Melvi Yendra said...

Hehe, iya, "Unfaithfull" :-)