Friday, December 10, 2010

EO 13221*

Washington D.C.
Seandainya bisa, ia akan memilih gantung diri daripada menghadapi situasi seperti yang dihadapinya sekarang ini. Ratusan ribu pengunjuk rasa yang dulu mendukung penuh dirinya berteriak-teriak mulai dari Lafayette Park, menjalar di sepanjang jalur satu arah Jackson Place dan membengkak di depan halaman rumahnya yang berseberangan dengan Gedung Putih. Mereka benar-benar tidak menyisakan sedikitpun tempat kosong antara White House dan kediamannya. Mereka mengacung-acungkan poster dan spanduk berisi kecaman keras. Mereka menuntut dirinya diadili atas pembunuhan keji yang dilakukannya sendiri atas Jessica Turner, wanita setengah baya yang hampir tiga puluh tahun menjadi pelayan di Gedung Putih.

Semua berpangkal dari dokumen sialan itu. Dokumen yang seharusnya tidak boleh dibaca oleh siapapun di dunia ini kecuali oleh segelintir orang. Dokumen yang semestinya hanya bisa diakses oleh segelintir orang yang tergabung dalam bigot list.
***

Dua tahun sebelumnya...Suara alarm membangunkan Roberto Carolous Amos. Ia bangkit dari tidurnya dengan perasaan bersemangat seperti biasa. Untuk seorang agen tua seperti dia, Amos tidak menuntut fasilitas macam-macam untuk mengisi masa pensiunnya. Ia hanya minta tidak diganggu lagi begitu masa dinasnya dari CIA berakhir. Tugasnya sebagai patriot bangsa sudah ia penuhi dan ia tidak minta medali apa-apa. Ia hanya ingin hidup tenang dengan sedikit tabungan yang tersisa setelah semuanya habis untuk menyelesaikan kuliah ketiga putranya di tempat yang layak. Mereka semua kini sudah mandiri. Dan sudah sepantasnya jika ia ingin berlibur.

Ia memang mendengar kabar tentang guncangan yang dialami sebagian besar warga Amerika setelah serangan 11 September. Ia juga melihat betapa dukungan rakyat Amerika terhadap perjuangan bangsa Palestina semakin kuat. Dari bar kecil di bagian terpencil Brasil, ia mengikuti semua hiruk pikuk itu. Tapi siapapun tahu, sejak sepuluh tahun yang lalu ia tak lagi peduli. Lagipula itu terjadi ribuan mil dari tempatnya berada sekarang.
***

Di lantai atas Gedung Kantor Eksekutif, bangunan besar keabuan di sebelah Gedung Putih yang menampung kantor-kantor staf untuk Presiden, di sisi salah satu koridor raksasa yang dilapisi pualam putih itu terletak Ruang 351. Di sini, di musim semi tahun ini, seorang lulusan Oxford bertubuh gempal meneliti arsip laporan dan intelijen yang mengalir ke kantornya yang berantakan. Kantor dan orang tersebut merupakan pusat syaraf Pemerintahan Presiden Amerika untuk urusan Timur Tengah. Di belakang meja tulisnya, berkutat dengan rincian yang membentang di hadapannya, kepala staf ahli untuk kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan, sedang mereka-reka apa yang harus mereka katakan pada Presiden. Mereka baru saja menemukan kebocoran informasi penting dalam dokumen tingkat tinggi negara.
***

Dinihari itu, Direktur Intelijen Pusat (DCI) atau yang lebih dikenal sebagai Direktur CIA dipanggil Presiden ke Gedung Putih. George Selmet merasa ada sesuatu yang tidak beres. Selama ini, briefing Laporan Harian Presiden (PDB) selalu dilaksanakan setiap pukul setengah enam pagi.

Ketika masuk ke Ruang Oval, ia melihat Presiden dalam kondisi yang tidak biasa. Lelaki itu gelisah dalam jubah tidurnya. Di ruangan itu berkumpul Wakil Presiden, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan, penasehat keamanan nasional dan Kepala Staf Gedung Putih, Thomas Fleischer. Ruang Oval dipenuhi ketegangan.

Tidak ada yang menjabat tangannya. Dalam kondisi seperti ini basa-basi protokoler tidak diperlukan lagi.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.

Presiden menekur di balik meja kerjanya. Lelaki itu sedang tidak mau bicara. Fleischer yang menjawab, “Dokumen Perintah Eksekutif 13221 dicuri seseorang dari brankasnya.”
Senyap. Wajah Selmet berubah. “Selain orang-orang di daftar bigot, siapa lagi yang bisa mengakses dokumen itu?”

“Itu seharusnya pertanyaan yang kutujukan untukmu, Selmet,” suara berat Presiden membuat semua kepala terangkat ke satu arah. “Dokumen itu sangat rahasia. Aku tidak ingin Komisi Tinggi Senat mengetahui adanya dokumen itu. Mereka tidak akan segan-segan menggantung kita semua. CIA pernah kecolongan, tapi untung Komisi Tinggi Senat masih memberi maaf.
Tapi kalau yang berhubungan dengan Timur Tengah, mereka tidak akan memberi ampun.”

“Anda sendiri tahu, Mr. Presiden, bahwa apa yang telah Anda rencanakan jelas-jelas melanggar hukum,” sela Selmet. “Para pendahulu Anda bahkan mengeluarkan Perintah Eksekutif untuk mencegah CIA melakukan misi pembunuhan rahasia. Anda seharusnya tidak lupa EO 11905 yang dikeluarkan Presiden Ford, EO 12306 yang dikeluarkan Presiden Carter dan EO 12333 yang dikeluarkan Presiden Reagan. Semua Eo itu melarang misi pembunuhan rahasia. Saya kira Anda tahu, ini akan jadi skandal besar.”

Presiden mengangkat wajahnya, menatap Selmet dengan tajam.
“Aku tidak butuh nasehatmu, Selmet. Laksanakan saja tugasmu. Dua hal yang harus segera kau tuntaskan, tidak peduli bagaimana caranya; pertama, selamatkan kembali dokumen yang dicuri itu; kedua majukan jadwal rencana yang sudah kuperintahkan dalam EO 13221. Aku khawatir kau harus bekerja lebih keras kali ini; waktumu cuma tiga bulan.”

Selmet tidak memperhatikan ketika Presiden bangkit dan melangkah keluar Ruangan Oval. Ia hanya merasa wajahnya menjadi lebih panas dari sebelumnya.
***

Semasa tugasnya, Amos orang yang cukup berpengaruh terhadap DCI dalam kebijakan Timur Tengah. Ia seorang analis kepala untuk CIA di kawasan tersebut, seorang perwira legendaris CIA dan salah seorang terpenting di badan intelijen itu. Dia seorag pemikir, penuh dengan gagasan baru bahkan terkadang menggidikkan bulu roma. Sebagai seorang perwira Direktorat Operasi, dia brilian dalam merekrut agen dan sumber bagi CIA.
Dulu kala, dalam awal penugasannya di Beirut, ia merupakan orang pertama yang melakukan penyusupan riil ke kubu PLO dan berhasil merekrut dua sumber kunci di tubuh organisasi tersebut.

Salah seorang rekrutan Amos adalah Ali Hasan Salameh, kepala intelijen dan keamanan Ketua PLO, Yasser Arafat. Salameh, yang diberi nama sandi “Pangeran Merah” oleh Mossad Israel, terbunuh pada tahun 1979 ketika mobil yang dikendarainya meledak, diduga bom tersebut dipasang agen Israel. Amos adalah biangnya dalam apa yang disebut “perang dinas rahasia” di Timur Tengah, di mana para mata-mata dan dinas intelijen semuanya saling berlaga, dan di mana hampir setiap tembakan, bom dan gerakan diplomatik mempunyai implikasi intelijen sekunder.

Selmet memintanya untuk kembali ke Timur Tengah. Kali ini untuk mengatur pembunuhan terhadap pimpinan tertinggi Hamas.

“Aku sudah terlalu tua, Selmet. Berikan saja pekerjaan itu pada bocah-bocah di Direktorat Operasi. Kulihat prestasi mereka cukup bagus,” sahut Amos di telepon. Ia tidak perlu memikirkan darimana Selmet tahu nomor telepon rumahnya.

“Jangan menyindir, Amos. Kau tahu, aku sudah angkat tangan menangani Usamah bin Laden. Sekarang kau lihat betapa posisiku sudah begitu sulit. Kau pasti tidak ingin melihat aku berjualan minuman kaleng di stasiun kereta bawah tanah, kan? Ayolah, Amos, cuma kau harapanku.”

Amos tidak pernah merasa iba pada seseorang. Tapi akhirnya ia berkata, “Baiklah, tapi kau harus ceritakan padaku siapa yang memberi perintah ini.”

“Oke...oke. Tapi tidak melalui telepon. Aku akan menjemputmu.”
***

Dua belas orang agen Federal telah diturunkan ke Gedung Putih untuk memata-matai seluruh orang yang bekerja di sana. Ada banyak kemungkinan, tapi secanggih apapun pencuri itu bekerja pasti ada yang menjadi penghubung dari dalam.

Tidak mudah menemukan hal-hal yang diharapkan di tempat seperti Gedung Putih. Apalagi dalam kasus ini. Setiap orang yang bekerja di sana, sampai ke tingkat terendah pun, diseleksi dengan ketat dan berlapis untuk bisa bekerja di sana. Tak seorang pun akan lolos kalau punya sesuatu yang tidak disukai Amerika. Tapi mereka lupa, waktu bisa merubah apa saja.

Termasuk loyalitas.
***

Tigapuluh tahun bekerja gedung paling terkenal dan penting di Amerika tidak banyak merubah status sosial Jessica Turner. Ia tetap tinggal di sebuah rumah sederhana peninggalan almarhum suaminya. Hidup sebatang kara membuat Jessica tidak punya pilihan lain selain mencintai pekerjaannya sebagai pelayan di Gedung Putih. Ia sudah mengalami pergantian presiden Amerika enam kali. Dan selera makan masing-masing the number one itu ternyata memang lain-lain.

Tapi bukan itu yang membuatnya kesal. Ia banyak mendengar apa yang tidak boleh di dengar. Ia banyak melihat hal-hal luar biasa, dan ia banyak membaca dokumen-dokumen yang lupa disingkirkan dari atas meja. Ia benci orang-orang sibuk dan penting di sana. Ia tahu siapa mereka saat berada di Gedung Putih dan tahu betapa munafiknya mereka semua ketika berada di luar gedung itu.

Namun diantara beberapa yang sempat di dengarnya telah membuat pikiran tuanya menyimpulkan bahwa rakyat Amerika di luar sana juga perlu tahu apa yang ia tahu. Tigapuluh tahun waktu yang cukup untuk mengenali setiap sudut bangunan Gedung Putih. Ia tahu hampir semua tempat. Ia tahu apa yang dibicarakan siapa kepada siapa dan tentang apa. Ia tahu siapa yang sedang marah, yang tertawa atau mengumpat tanpa perlu melihat orangnya.

Pagi ini ia merasa agak cemas. Beberapa orang yang tak dikenal berkeliaran di Gedung Putih. Ia merasa ini pasti ada kaitannya dengan dokumen yang ia curi itu. Dokumen yang malam ini rencananya akan diberikannya pada Alicia Sabre, seorang gadis baik-baik yang bekerja di Washington Post.
***

Mereka janji bertemu di sebuah kafe pinggir jalan di sekitar National Park. Jessica menyimpan dengan hati-hati map berisi dokumen yang akan ia berikan pada Alicia. Wanita itu yakin, sejak meninggalkan rumahnya sore tadi tak ada yang mengikutinya. Ia sudah duduk-duduk di taman selama kurang lebih satu setengah jam sambil membuka-buka novel kesukaannya.
Selama itu pula ia mencoba menenangkan dirinya yang mulai gelisah. Bagaimana kalau mereka tahu? Apa hukuman yang akan diberikan Presiden untuknya. Atau ia malah akan mendapat medali karena telah menyelamatkan muka negara dari cercaan dunia. Rencana dalam dokumen itu harus dibatalkan. Ini kekejian tiada tara yang coba dilakukan oleh para pemilik kekuasaan tertinggi di Gedung Putih. Cukup sudah apa yang dilakukan Amerika terhadap Afghanistan. Semuanya harus dihentikan sebelum terlambat.

Ia memesan minuman dan duduk menunggu. Tidak sulit baginya memantau pintu masuk, karena ia memilih meja paling ujung. Ia bisa berjaga-jaga kalau-kalau ada yang mencurigakan di luar sana.

Alicia datang dengan sikap seorang putri yang kangen bertemu ibunya. Mereka berpelukan dan saling menanyakan kabar. Alicia lalu memesan minuman.

“Anda yakin dokumen ini sangat penting?” Alicia memulai dengan tidak merubah mimik wajahnya. Kafe itu mulai dipenuhi pengunjung. Tapi belum ada gejala mencurigakan.

“Ya, tentu saja. Hari ini beberapa orang pria tak dikenal menjadi tamu dan berkeliaran di Gedung Putih.”
“Pasti FBI.”
“Barangkali.”

Keduanya diam sebentar. Lagu-lagu lembut mengalir dari piano yang dimainkan seorang wanita negro di sudut panggung. Tapi tetap saja Jessica tak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
“Akan Anda apakan dokumen itu?” tanyanya.

Alicia tersenyum. Ia baru mengenal Jessica beberapa bulan. Ketika itu Alicia harus menunggu saat wawancara dengan kepala Staf Gedung Putih.
Jessicalah yang mengantarkan minuman untuknya. Mereka lalu berkenalan dan akrab. Dari satu sisi, persahabatan ini sangat menguntungkan bagi Alicia. Tapi ia tidak mau memanfaatkan Jessica. Ia tak pernah meminta.

“Dokumen itu akan dipelajari oleh pakar ahli kami. Tentu saja nama Anda akan kami rahasiakan. Setelah segalanya memungkinkan, kami akan menurunkannya dalam berita di halaman depan...”

“Dengan sedikit kekacauan setelahnya,” potong Jessica, mencoba tersenyum. Alicia ikut tersenyum. “Sejauh mana tingkat kerusakan yang akan dihasilkan skandal ini?”

“Lebih parah dari Iran-Contra, kurasa. Komisi Tinggi Senat tidak akan memberi ampun pada pemerintah. Angka dengar pendapat akan banyak bicara.
Kalau Presiden kita cukup gentlement, dalam beberapa bulan dia akan mengeluarkan pernyataan yang akan disambut hangat oleh lawan-lawan politiknya.”

Jessica kembali merenung. “Apa kita akan baik-baik saja sementara semua itu berlangsung?”

Alicia menepuk bahu sahabat tuanya. “Jangan cemas. Kita berada di jalur yang benar. Tuhan akan melindungimu”

Lima belas menit kemudian mereka berpisah dan kata-kata itu tetap berdengung di telinga Jessica.
***

Satu bulan sejak bertemu kembali dengan Selmet, Amos berangkat untuk misi lapangan ke Timur Tengah. Ia dibekali setumpuk data tentang Hamas dan para pemimpinnya.

Pada tanggal 18 bulan yang sama, dia sedang berada di Kedutaan Amerika Serikat di Tel Aviv ketika sebuah truk terbuka berisi bahan peledak menerobos ke tempat tersebut dan meledak dahsyat. Bagian tengah bangunan berlantai tujuh berwarna salmon tersebut ambruk dan ketika tubuh-tubuh dikeluarkan dari timbunan reruntuhan, terhitung 63 orang tewas, termasuk 17 warga Amerika, diantaranya Amos, kepala pos CIA di Tel Aviv dan deputinya serta setengah lusin perwira CIA lainnya.

Washington tidak banyak memberi komentar. Alih-alih meminta penyelidikikan atas peristiwa tragis tersebut, Komisi Senat Terpilih untuk Intelijen malah mempertanyakan keberadaan Roberto Carolous Amos di Tel Aviv. Komisi Senat merasa tidak pernah menerima laporan apapun tentang diaktifkannya kembali mantan perwira senior CIA itu secara resmi setelah mengambil pensiun sepuluh tahun yang lalu.

Belum ada informasi apa-apa tentang siapa pelaku serangan bom terhadap kedutaan Amerika tersebut. Namun empat jam setelah Gedung Putih menuduh kelompok garis keras Palestina sebagai dalangnya, sebuah kelompok ekstrem kiri Yahudi mengaku bertanggung jawab atas peristiwa pengeboman tersebut.
***

Para agen khusus FBI yang ditugaskan di Gedung Putih, semakin hari semakin mempersempit lingkup penyelidikannya. Laporan-laporan berkala yang masuk ke meja Direktur FBI menunjukkan bahwa tersangka pencuri dokumen ultra rahasia yang hilang tersebut adalah orang dalam.

Dalam rapat dadakan sebelumnya, Presiden meminta agar mereka yang ada dalam bigot list tutup mulut dalam masalah ini. Namun jelas saat itu Presiden ingin sekali melampiaskan rasa kecewanya dengan memburu pencuri dokumen EO 13221 itu. Ia dengan geram menyatakan akan mengeksekusi sendiri bajingan itu.

Kini Robert Mueller merasa lemas ketika menerima laporan terakhir dari anak buahnya. Tersangka pencuri dokumen EO 13221 adalah wanita berumur 50 tahun yang bekerja sebagai pelayan di Sayap Barat Gedung Putih.
***

Jessica Turner punya firasat tidak baik ketika ia dipanggil oleh seorang asisten kepala keamanan Gedung Putih. Wanita itu dibawa ke sebuah ruangan jauh dibagian sudut terpencil bangunan Gedung Putih.

Perasaannya tidak enak. Semalam Alicia menelepon dan mengabarkan bahwa isi dokumen itu akan dimuat di halaman depan Washington Post besok pagi. Mereka sudah menemukan kaitan antara isi dokumen tersebut dengan peristiwa pengeboman kedutaan Amerika di Tel Aviv beberapa hari yang lalu.

Hari itu adalah hari ke 453 menjelang masa tugas Jessica Turner berakhir. Ia sudah mengabdi di Gedung Putih hampir 30 tahun. Tapi sejak hari itu, tetangganya tak pernah lagi melihat Jessica Turner pulang ke rumahnya. Mereka menunggu selama beberapa hari sebelum akhirnya melaporkannya ke polisi. Pihak kepolisian memeriksa, menyelidiki dan mewawancarai banyak orang berkaitan lenyapnya Jessica Turner. Berbulan-bulan kemudian, ketika polisi sampai pada titik di mana harus berhubungan dengan Gedung Putih, tiba-tiba kasus itu dinyatakan ditutup. Pihak berwenang tidak mau mengeluarkan pernyataan apapun setelah itu.
Jessica Turner tidak pernah lagi terlihat di mana pun di bagian bumi ini. Namun namanya mulai sering disebut-sebut oleh pembaca berita di televisi dan radio. Namanya tertulis dalam ukuran font besar di halaman-halaman koran, majalah dan situs-situs internet.
***

Skandal itu akhirnya jatuh menimpa Presiden AS. Komisi Tinggi Senat yang diketuai senator Harry Moynihan, akhirnya membentuk Komisi Khusus untuk menyelidiki kasus itu. Komite yang disebut sebagai Justice Commitee itu di senat mengungkapkan bahwa sekelompok orang penting di pemerintahan telah merencanakan dan menyupayakan usaha pembunuhan terencana terhadap lima orang pemimpin negara-negara Islam di dunia termasuk Indonesia.
Sasaran utama misi rahasia itu adalah Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spritual gerakan Hamas di Palestina.

Dokumen EO 13221 asli yang sudah diambil alih dari pihak Washington Post menjadi bukti otentik keterlibatan Presiden, Wakil Presiden, Direktur CIA, Direktur FBI, Menteri Pertahanan, Direktur NSA, Penasehat Keamanan Nasional dan Kepala Staf Gedung Putih dalam skandal besar itu.

Penyelidikan lebih lanjut membuka tabir siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya Jessica Turner, saksi kunci dalam skandal ini. Dalam laporan setebal limaratus halaman itu, Justice Commitee mengusulkan kepada senat untuk menjatuhkan empeachment terhadap Presiden dan mengadilinya sesuai hukum yang berlaku di Amerika.
***

Epilog.
Ia masih berdiri di jendela, mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakainya kemarin. Wajahnya kusut.

Pasukan pengawalnya sudah benar-benar tidak bisa mengendalikan massa yang berteriak-teriak di halaman kediamannya. Celakanya, dalam kondisi seperti itu tak seorang pun sahabatnya yang berada di dekatnya.

Subuh tadi, Ariel Sharon meneleponnya dari Tel Aviv. Orang itu dengan ucapan sedih mengatakan bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Sharon sendiri masih sibuk dengan urusannya yang tak kunjung selesai; menghabisi militan Hamas dan Izzudin Al-Qazzam-nya.

Biarlah, tidak apa-apa, jawabnya dengan hati jengkel. Padahal misi itu mereka rencanakan bersama-sama sejak tiga tahun yang lalu. Telepon pagi itu ditutup dengan tawaran manis dari Sharon untuk berlibur beberapa hari di Tel Aviv sebelum ia mendekam di penjara.[]

Utan Kayu, 10 Mei 2002
Sebagian fakta dalam cerita ini adalah benar

Keterangan :
Bigot List
Sekelompok kecil orang yang memiliki akses terhadap laporan dari agen atau operasi spionase yang sangat peka.

DCI
Direktur Intelijen Pusat, pengawas dan koordinator semua badan intelijen Amerika Serikat dan sekaligus kepala CIA; juga merangkap sebagai kepala penasihat intelijen Presiden.

PDB
Laporan Harian Presiden, bahan intelijen paling peka dan eksklusif, yang diikhtisarkan dan dikirimkan kepada Presiden, Wakil Presiden, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan, DCI, penasehat keamanan nasional dan sejumlah kecil pembantu senior Gedung Putih.

*)Diterbitkan kembali dalam antologi cerpen "Gadis Kota Jerash", LPPH, 2010
Read more »

No comments: