Thursday, December 9, 2010

Benny Arnas dan Ceruk-Lekuk Lubuk Linggau dalam Kisah*

1
Lubuk Linggau, daerah kelahiran Benny Arnas, punya kenangan tersendiri di benak saya. Di masa Pak Harto masih berkuasa, Lubuk Linggau adalah daerah yang suka atau tidak-suka dicap sebagai daerah rawan oleh sebagian kami—orang Sumatera Barat—para penumpang bus yang ingin menuju Jakarta. Masih bisa saya ingat, sekitar tahun 1998, bus Gumarang Jaya (berangkat dari Bukittinggi menuju Jakarta) dilempari batu oleh sekelompok pemuda yang mengendarai kijang pick-up, di salah satu kelokan di Lubuk Linggau. Horor yang diakibatkan oleh peristiwa itu masih saja membuat saya bergidik sampai sekarang bila melintasi daerah itu, meskipun sekarang sudah jarang terdengar ada kendaraan yang dilempari batu.

2
Saya awalnya mengira, saya belum sekalipun bertemu Benny Arnas.
Saya sangat yakin akan hal itu karena seingat saya, kami memang belum pernah berjumpa. Saya mengenal Benny Arnas sebagai Ketua FLP Lubuk Linggau—dan dua tahun terakhir sebagai cerpenis yang kerap muncul namanya di rubrik sastra dan budaya koran-koran nasioanl. Dan—mungkin—Benny mengenal saya sebagai salah satu orang yang duduk di kepengurusan Pusat FLP. Sebelihnya, saya mengira, Benny mungkin tidak tahu saya juga seorang penulis cerpen, sebab saya memang mandul menulis cerita, terutama sekali untuk dikirim ke koran. Cerpen-cerpen saya beberapa waktu terakhir, dimuat di media yang identik dengan Islam, yang pembacanya mungkin tak seluas koran-koran Ibu Kota.


Namun, terpaksa saya membuka kartu, betapa malunya saya ketika Benny mengatakan bahwa kami berjumpa pertama kali justru tahun 2003, tepatnya tanggal 9 Juli. Hari itu adalah hari pernikahan saya dengan istri saya, dan Benny Arnas adalah salah satu anggota tim nasyid yang diundang dalam helat pernikahan saya itu. Alamak, sungguh saya merona karena malu. Pastilah Benny mengira saya mulai uzur. Dasar pelupa, memang.

3
Terus terang, saya belum banyak membaca karya-karya Benny Arnas, yang sejak dua tahun masa kepengarangannya, sudah berhasil memuat lebih kurang 100 cerpen di pelbagai media dan antologi bersama. Buat saya, angka 100 itu pencapaian yang luar biasa. Tak banyak pengarang di Indonesia, dalam masa dua tahun, bisa menerbitkan ceritanya sebanyak itu. Jadi, bisalah kita sebut, Benny, yang belum berkepala tiga ini, sebagai penulis prolifik.

Satu-dua cerita pendek Benny pernah saya baca, entah melalui situs cerpen atau koran, dan awalnya saya jarang sekali menuntaskannya. Ada dua sebab sebenarnya. Pertama, saya terbiasa dengan cerpen-cerpen dari penulis yang sudah saya kenal. Kedua, cerpen Benny banyak memuat diksi yang baru dan asing. Yang terakhir ini—tidak hanya terjadi pada cerpen Benny, tapi juga cerpen-cerpan lain dari penulis lain—sering menyebabkan saya sering terpaksa berhenti membaca di tengah-tengah paragraf untuk kemudian mencari-cari arti kata yang dimaksud melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia atau Google. Tentu saja, membaca dengan kondisi terganggu seperti itu sama sekali tidak nyaman.




4
Buku Kumpulan Cerpen “Bulan Celurit Api” berisi 13 buah cerita pendek, yang semuanya memang tampak terang disengaja Benny untuk mengangkat Lubuk Linggau ke dalam kisah. Tepatlah kiranya bila Benny memang sangat berniat mengangkat isu lokal kampung halamannya ke dalam kancah kepengarangannya.

Isu lokal itu terasa kian kuat ketika Benny berusaha keras mengangkat tiga kisah legenda kampung halamannya itu ke dalam cerpen “Bujang Kurap” dan “Kembang Tanjung Kelopak Tujuh”. Di dua cerpen ini, pengarang bahkan ingin menjelaskan nyata-nyata kepada pembaca, bahwa legenda ini layak dikenang bagai legenda lain di daerah lain yang mungkin sudah menjadi kisah turun-temurun sejak lama. Dan menurut saya, Benny telah melakukan hal yang benar dengan menuliskannya buat kita.

Keseluruhan cerpen dalam cerita ini, membuat—setidaknya saya—kembali tersendat-sendat. Benny menggunakan kata yang tak biasa untuk mengungkapkan beberapa benda, istilah, julukan. Kata-kata itu indah, dan pas. Terutama sekali, menjadi kosakata baru buat pembaca ketika Benny menggunakan istilah-istilah lokal dalam cerpen-cerpennya.

Namun, bisa jadi, ketersendatan saya itu, sebabnya adalah karena memang sayalah yang kurang banyak mengenal kosakata dalam bahasa Indonesia. Namun saya khawatir Benny agak terpancing/terjebak pada apa yang dikatakan orang sebagai “bergenit-genit dengan diksi”. Banyak penulis pemula dan tidak-pemula, yang berpayah-payah melakukan itu hanya untuk memikat dan membuat pembaca mereka terpacak kagum dan mendecas pada kata-kata sulit dan kalimat-kalimat sukar seperti belikar yang mereka gunakan.

Cobalah lihat kata-kata atau kata beriumbuhan seperti menugal, tarup, ambal, pangkur, terindak, singup, dacing, jangak, kajat, atau memirik? Apakah akrab di telinga, atau merasa perlu membuka kamus untuk tahu artinya?

Itulah yang saya maksudkan.



5
Saya akan mengambil hak saya untuk mengatakan bahwa cerpen “Bulan Celurit Api” tidak tepat dijadikan sebagai judul yang mewakili kumpulan cerita pendek ini. Tapi bukan hak saya untuk mencari tahu apa alasan sebaliknya yang digunakan Benny atau penerbit untuk mengunggulkan cerpen ini.

Kalaulah saya seorang juri, dan cerpen-cerpen Benny Arnas dalam buku ini adalah karya yang dilombakan, saya akan memilih “Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan” sebagai juara. Ya, benar, itu pasti persoalan selera. Tapi izinkan saya memberi alasan.

Cerpen yang judulnya sangat panjang ini mendedah banyak keperihan lokal yang menurut saya layak diketahui orang banyak. Entah ini fakta yang difiksikan oleh Benny, cerita ini mengungkap ketidakberdayaan rakyat kecil berhadapan kesewenang-wenangan sistem yang kebetulan dikendalikan oleh para toke dan tukang dacing (tukang timbang). Digembosinya ban truk para pemburu dan akibatnya vonis potongan harga getah para yang dimainkan seenaknya oleh tukang dacing, adalah gambaran hukum rimba yang tidak hanya terjadi di pedalaman Lubuk Linggau atau Sumatera Selatan, tapi terjadi di seluruh negeri. Dan di tengah sistem yang bobrok itu, Mak Atut tetap mempertahankan tradisi luhur yang pasti tidak ia dapatkan begitu saja: kejujuran adalah segala-galanya.

6
Paling tidak, dalam kumpulan ini, ada tiga cerita yang tokoh-tokohnya mengalami kondisi yang seragam: janda atau tak lagi bersuami, yaitu Mak Muna dalam “Bulan Celurit Api”, Mak Atut dalam ““Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan” dan Mak Zahar dalam “Hari Matinya Ketib Isa”. Benny menempatkan ketiga perempuan ini sebagai janda dan segenap persoalan yang mereka hadapi tanpa seseorang tempat melabuhkan kesedihan dan persoalan hidup.



Dalam cerpen-cerpen lainnya, Benny juga memosisikan tokoh utama (yang perempuan) dalam kondisi yang tak mencecap keadilan. Dalam “Malam Rajam”, Benny memotret perilaku majikan (dan anak-anaknya) terhadap kemanusiaan seorang pembantu yang sering mereka jadikan babu dan budak ranjang. Tentu saja, ini menjadi salah satu cerpen—yang menurut saya—tidak mengangkat isu lokal dan menjadikannya tidak terlalu istimewa, karena hal serupa kerap terjadi di tempat dan waktu yang lain.[]

*) adalah pengantar dalam Peluncuran dan Diskusi Buku “Bulan Celurit Api” karya Benny Arnas, di Rumah Cahaya Depok, 27 November 2010

Foto-foto: Anna Noor

No comments: