Friday, December 10, 2010

AL*

Di kampung saya ada sebuah surau. Surau Taslim namanya. Surau ini tak jauh dari rumah, sekira 50 meter saja. Kalau orang azan atau mengaji, suaranya terdengar keras dari rumah. Musala Taslim sudah seperti rumah kedua bagi saya. Saya—boleh saya sebut—sebagai generasi-generasi penghabisan yang masih melestarikan budaya Minangkabau di mana anak lelaki yang sudah akil balig lebih sering berada di surau ketimbang di rumah. Kadang-kadang, pulang ke rumah hanya untuk makan dan berganti pakaian saya. Namun begitu, saya katakan, saya lebih banyak tidur di surau bukan karena ingin mengikuti adat istiadat itu, tapi memang saya saja yang suka menghabiskan waktu di sana.
Selain belajar mengaji, saya dan kawan-kawan saya, belajar menjadi imam dan mubaligh. Kepandaian di dua bidang ini kadang-kadang terpakai juga beberapa kali.
Apabila orang-orang dewasa yang biasa jadi imam atau ustadz tak hadir di saat-saat terakhir sebelum kedua kegiatan itu dimulai, kami yang kecil-kecil inilah yang diminta maju menggantikan. Tugas itu sebuah kehormatan, tapi tak jarang membuat lutut bergetar juga saking gugupnyua. Jemaah ibu-ibu sangat senang melihat keberadaan kami, bapak-bapaknya merasa bangga dalam usia yang masih kecil, sudah ada yang menyambut tongkat estafet tugas mereka di masa datang.

***
Di kampung saya, ada seorang anak yang sebelumnya tidak saya kenal. Mungkin karena lingkungan pergaulan kami berbeda, kami jadi jarang bersua. Dia tak pernah ke masjid untuk belajar mengaji atau salat jamaah. Hanya sesekali saja di hari raya saya melihatnya datang ke musala atau tanah lapang untuk ikut salat ied.

Namanya Aldev, sebut saja begitu. Dia sebenarnya beberapa tahun lebih tua dari saya, mungkin dua atau tiga tahun. Saya sudah lupa bagaimana awalnya kami mulai dekat. Tapi yang jelas, sejak saya kelas dua SMP, saya dan Al adalah dua orang sahabat yang nyaris tak terpisahkan. Ke mana-mana saya dan Al selalu tampak bersama. Saya sering main ke rumahnya atau membonceng di belakangnya naik motor atau sepeda.

Namun kedekatan kami sedikit tampak ganjil di mata orang-orang kampung, terutama teman-teman saya. Beberapa teman di sekolah yang tahu saya berteman dengan Al, juga memandang saya agak aneh. Apa pasal? Al adalah anak tunarungu. Al tidak bisa mendengar, ataupun berbicara. Dia menggunakan bahasa isyarat kalau ingin mengungkapkan sesuatu. Mungkin sebagai anak tunarungu, Al dipandang sama (atau tidak dibedakan) dengan anak yang lain, sebagaimana juga saat ada teman yang lumpuh ataupun tidak bisa melihat. Tapi, yang mengherankan teman-teman saya dan orang-orang di kampung adalah… bagaimana saya bisa dapat begitu dekat dengan anak yang tidak bisa saya ajak bicara?

Entahlah. Saya juga tidak tahu. Buat saya justru, berteman dengan Al mendatangkan sebuah pengalaman mengasyikkan dan unik, yang tidak saya temukan dalam pertemanan dengan kawan-kawan saya yang lain. Bersahabat dengan Al—bisa jadi juga—menjadi celah saya menemukan sebuah dunia baru yang selama ini tak terbayangkan oleh saya.

***
Suatu hari, dalam hari kesekian ratus dalam pertemanan kami, Aldev mengajak saya berkunjung ke sekolahnya, sebuah SLB/B (Sekolah Luar Biasa Kelas B—Tunarungu) yang ada di kota saya. Sekolah itu ada di pinggiran kota, mengambil lokasi di sebuah kaki bukit kecil yang udaranya sejuk dan pemandangannya indah. Dari rumah kami berangkat naik sepeda. Walaupun ngos-ngosan, tapi asyik juga mendaki kaki bukit kecil itu bergantian.

Di sekolah ini siswa dibagi menjadi dua: yang tinggal di asrama sekolah dan yang tinggal bersama orangtua di rumah. Hari itu bukan hari sekolah. Sebagaimana saya yang sedang libur, murid-murid SLB yang tinggal di asrama sekolah mengisi kegiatan libura hari Minggu itu dengan bermain di asrama. Aldev membawa saya ke sana. Saya “diperkenalkan” pada teman-temannya yang tunarungu, lelaki dan perempuan, yang masih tingkat SD ataupun yang sudah SMP.

Di tengah-tengah “obrolan” mereka yang seru, saya menemukan keakraban yang lain di sana. Anak-anak yang tak bisa bicara ini, “bicara” dengan “rame” dan tampak “sibuk” dengan berbagai bahasa isyarat yang diam-diam saya cermati dan saya serap. Pengetahuan dan “ilmu” komunikasi saya dengan anak-anak ini jadi bertambah tiap saat. Kadang saya suka menyela menanyakan tanpa malu-malu, minta mereka “mengulang” apa yang baru saja mereka “katakan”. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak—tanpa saya tahu apa yang lucu—tapi belakangan saya bisa menangkap apa yang bisa membuat mereka tertawa dan tersenyum lebar.

Asrama SLB/B ini sebenarnya ada penjaganya, seorang bapak setengah baya. Dia bukan tunarungu. Saat jadwal makan siang datang, saya sempat melihat Aldev “bicara” dengan Bapak Penjaga Sekolah. Saya pikir, si Bapak mungkin bertanya siapa saya dan Aldev menjelaskan padanya siapa saya. Si Bapak tersenyum pada saya dan mempersilakan saya ikut makan. Saya mengucapkan terima kasih dan sampai di situ saja pertemuan kami.

Jadwal salat zuhur pun tiba. Azan tidak terdengar, tapi saya bisa merasa, bahwa waktu salat sudah datang. Saya menghampiri Aldev dan mengajaknya “bicara” dalam bahasa isyarat.

*Saya mau salat zuhur, kalau di sini ada musala, nggak?*
*Tidak ada. Kita biasanya salat di salah satu ruangan yang disulap jadi tempat salat,* sahut Aldev.
*Oke, kalau gitu, saya mau salat. Kamu ikut salat sama saya, kita jamaah,* kata saya.

Aldev mengangguk lalu “berpamitan” pada teman-temannya mau izin ikut salat dengan saya. Tapi, lalu terjadi dialog entah apa. Saya pikir Aldev menjelaskan bahwa saya adalah anak surau, anak alim yang biasa salat jamaah di masjid.

Ajaib, beberapa temannya kemudian malah ikut-ikutan mau salat bersama saya. Saya senang. Kami mengambil wudu secara bergantian di kamar mandi, lalu menggelar sajadah di ruang tempat salat.

Tanpa diminta, saya langsung maju ke depan untuk menjadi imam. Namun, sebelum pasang niat, saya tersadar bahwa makmum saya bukanlah orang biasa. Mereka tidak akan bisa mendengar suara saya. Mereka hanya akan memerhatikan gerakan salat saya dan mengikutinya. Dalam keadaan seperti itu, gerakan bangkit dari sujud adalah fase di mana—dalam bayangan saya—mereka akan saling lirik kiri-kanan untuk mencari tahu apakah saya sudah bangkit atau belum. Parahnya, akan ada di antara mereka yang mencoba mengangkat sedikit kepala untuk melihat apa saya sudah bergerak atau belum.

Dan menurut saya, hal itu agak sedikit tidak nyaman.
Tapi Aldev dengan cepat dan cerdas, menangkap raut di kening saya dan memberikan solusinya.

*Keraskan saja suaramu. Kalau suaramu keras, kami bisa mendengarnya walau sedikit,* kata Aldev.
Hmmm… begitu rupanya. Okelah kalau begitu, kata saya, lalu memulai salat. Apa yang dikatakan Aldev benar. Dengan mengeraskan suara saya semaksimal mungkin, saya merasa mereka bisa mengikuti gerakan saya tanpa perlu melakukan tindakan-tindakan yang saya khawatirkan sebelumnya.

Salat zuhur pun usai. Mereka semua menyalami saya dan entah kenapa, saya menemukan pencerahan luar biasa hari itu.

***
Di waktu yang lain, ada dua kejadian, yang kalau saya ingat-ingat lagi sampai sekarang, masih membuat saya senyum-senyum sendiri.

Kejadian pertama ditakdirkan berlaku pada suatu hari ketika saya dan Aldev sedang berboncengan naik motor. Waktu itu, Aldev mengizinkan saya yang bawa. Saya senang bukan main. Ceritanya, itu kali pertama diberi kesempatan untuk bawa motor. Kami bergerak pelan-pelan menuju rumah seorang teman Aldev yang juga sudah akrab dengan saya.

Namun kegirangan dan kesenangan saya mengendarai motor, dirusak oleh seorang polisi yang mendadak muncul di sebuah perempatan yang sepi. Ia meniup peluit yang terdengar begitu keras di gendang telinga saya dan Aldev dengan wajah sedikit khawatir menepuk punggung saya menyuruh berhenti.

Saya menghentikan motor dengan gugup. Si polisi mendekat. Dan otak murid SMP kelas 3 saya menemukan sebuah secercah jalan yang berbahaya tapi tak ada salahnya kalau dicoba.

“Kamu tak pakai helm, mana sim kamu?” kata si polisi begitu sampai di depan saya.

Saya mengatupkan kedua telapak tangan saya dan menariknya ke dada. Wajah saya saya melaskan. Si polisi awalnya tak bereaksi, tapi ketika Aldev turun dari motor dan minta saya turun dari motor dengan bahasa isyarat, si polisi langsung mafhum. Apalagi saat saya dan Aldev melakukan “dialog” singkat di depan si polisi.

“Ya, udah, saya tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Hati-hati saja di jalan.”

Lelaki berseragam yang buat saya sesungguhnya menyeramkan itu berlalu dari hadapan kami dan kembali masuk ke dalam warung di pinggir jalan tempat ia sebelumnya ngumpet mengintai mangsa.

Aldev sendiri kebingungan kenapa si polisi pergi begitu saja. Saya tidak mau memberi pencerahan padanya saat itu karena saya pikir itu bisa saya lakukan nanti sesampainya kami di tujuan. Yang penting, selamatkan diri dulu sebelum si polisi kembali lagi untuk menanyai kami.

Ketika kemudian saya “menceritakan” pada Aldev apa yang terjadi, dia tertawa terpingkal-pingkal.

*Kamu pandai juga berlagak jadi orang bisu,* kata Aldev sambil meninju bahu saya. Kami pun tertawa bersama.

***
Peristiwa kedua agak mirip dengan yang pertama. Tapi kejadiannya sangat berbeda.

Saat itu saya dan Aldev pergi berlebaran bersama belasan anak-anak tunawicara lainnya. Kami berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya, termasuk ke rumah saya.

Di sebuah rumah salah seorang teman Aldev, ada kejadian lucu. Zar—nama sahabat Aldev yang rumahnya sedang kami datangi—punya dua orang adik perempuan. Keduanya bukan tunarungu, sama seperti saya. Saat sedang ramai-ramai dan asyiknya saya dan teman-teman tunarungu saya itu “ngobrol”, mereka datang mengantarkan minuman. Setelah semua menerima minuman masing-masing, salah seorang adik Zar berkata pada saudara perempuannya.

“Itu teman abang yang pakai kacamata anak mana, ya? Kok baru liat sekarang?”

Yang mereka maksud adalah saya, karena saat itu saya melihat mereka sedang memerhatikan saya.
“Nggak tahu. Emang kenapa?”
“Ah, enggak, beda aja. Keliatan cakep dan pinter.”
Mereka berdua lalu masuk ke dalam dan meninggalkan kami.
Hahaha…

Saya yang duduk tak jauh dari mereka, bisa mendengar dialog itu. Saya terpingkal-pingkal dalam hati. Darah remaja saya membuat saya salah tingkah mendengar pujian itu. Untung saja saya tidak keselek kue yang sedang saya kunyah.

***
Tahun 1991, tamat SMP, saya diterima di SMA 1 Padang, yang 180 kilometer jauhnya dari kota asal saya. Saya berpisah dengan keluarga, sahabat, dan surau saya, merantau ke Padang untuk melanjutkan sekolah.

Hubungan saya dan Al nyaris terputus sejak saat itu. Sesekali saja apabila pulang ke kampung, kami masih suka bertemu, tapi seiring kesibukan saya sekolah, hal itu lama-lama makin jarang terjadi. Apalagi saya tidak bisa bicara atau berkomunikasi dengan Al via telepon atau surat. Paling-paling, kami punya waktu agak lama saat libur lebaran atau liburan panjang.

Al dan saya makin jarang ketemu sejak saya mulai kuliah. Aldev saat itu juga sudah tamat sekolah dan bekerja membantu seorang saudaranya di sebuah pertukangan kecil di kota saya. Sekitar tahun 1995, saya mendapat kabar Aldev berangkat ke Johor Bahru, Malaysia untuk membantu seorang kakak perempuannya yang sudah jadi warga negara sana. Sejak itu kami tak pernah lagi bertemu. Ketika dia menikah sekitar tahun 1999, saya juga tidak sempat hadir.

Tahun 2000, saya menyelesaikan kuliah saya dan berencana mencari beasiswa S2 ke Malaysia. Seorang anggota keluarga Al di kampung menawarkan agar saya datang ke Johor Bahru dan tinggal selama di Malaysia bersama Al.

Saya berangkat ke Johor Bahru, Malaysia dan pertemuan yang sudah lama diinginkan itu akhirnya terjadi. Al sudah punya satu orang anak saat itu dan istrinya juga seorang tunarungu.

Selama di Malaysia, saya hanya beberapa minggu saja bersama Al. Sisanya saya tinggal dan sibuk dengan kegiatan saya sendiri. Tidak betah di Malaysia, saya akhirnya kembali pulang. Niat saya untuk melanjutkan kuliah juga terkendala banyak hal. Saya kembali ke kampung dan mulai mencari kerja di Jakarta. Saya pun kembali berpisah dengan Al.

Tahun 2003 saya menikah. Al datang bersama istri dan anaknya. Saya
senang sekali bisa kembali “ngobrol” dengannya. Lalu tahun 2005, Al datang ke Jakarta—sendirian—untuk mencari kerja. Tapi karena tidak banyak peluang untuknya, Al kembali ke kota kami. Dan sejak saat itu sampai hari ini saya belum pernah bertemu lagi dengannya.

***
Suatu hari, seseorang yang baru saja saya terima sebagai sahabat di Facebook, menyapa saya. Dia lalu menulis sebuah pesan di wall saya. Namanya tidak saya kenal, dia pun tidak memasang fotonya sebagai gambar profil.

Kata-kata dalam pesannya cenderung kacau dan tak beraturan, seperti tidak tahu bagaimana menulis kalimat yang baik dan benar. Namun, sebelum membuka profile-nya, saya sudah bisa menebak, dia adalah kawan lama saya, sahabat masa kecil saya yang sudah lama tak saling jumpa dengan saya.

*Mel, apa kabar? Ini Al. Mel di Jakarta? Al di Payakumbuh usaha jamur. Mel sekarang sombong pada Al, ya…*

Itulah Al. Sahabat masa kecil saya yang tak terlupakan. Sejak hari saya membaca pesan itu, sampai sekarang kami sudah bisa “ngobrol” lagi, walaupun dalam bahasa tulisan.[]

*)Dimuat dalam kumpulan kisah nyata "I Love U, Friends", LPPH, 2010


No comments: