Monday, August 3, 2009

Abak Ajo Kawin Lagi


(Al-Mujtama', Edisi 7 Th. I/25 Sept. 2008)

Sudah dua hari ini Rubiah risau alang kepalang. Apa pasal? Apa lagi kalau bukan gara-gara si Ajo. Anak bujangnya itu sejak kemarin tiap sebentar mengasah lading di belakang rumah. Tiap kali Rubiah bertanya, sebanyak itu pula jawaban Ajo membuat jantung wanita itu serasa mau lepas.

“Untuk apo kau asah lading tu, Jo?”

“Untuk mendabih Abak.”

“Mendabih abakmu? Kenapa kau ingin mendabih abakmu? Apo salah beliau?”

“Kudengar Abak mau kawin lagi. Sama janda di seberang sungai.”

“Halah! Dapat dari mana kau cerita kek gitu?”

“Halah, Mak ini! Semua orang kampung sudah tahu, Mak. Bahkan sudah sampai ke kampung seberang. Si Udin, yang punya rakit di hulu sungai, bahkan sudah mengejekku empat kali. Katanya, aku sebentar lagi akan punya ibu tiri.”

“Jangan kau dengarkan si Udin itu. Dia tu tak sekolah. Makanya bicaranya tak betul.”

“Tidak bisa, Mak. Pokoknya, Ajo mau bikin perhitungan dengan Abak. Kalau Abak mau kawin lagi, dia harus bisa menahan tajam lading ini. Ini lading pemberian Atuak. Silat Abak ndak akan bisa menahan kesaktian lading ini.”
Rubiah tersenyum masam. Diperbaikinya kain gendongan Rumi, si bungsu yang baru enam bulan, yang sedari tadi tertidur pulas dalam gendongannya. Rubiah kembali ke dapur meneruskan pekerjaannya.

Ajo sekarang 12 tahun. Sudah besar untuk ukuran kampung mereka. Badannya besar, kulitnya hitam, sama seperti Rustam, abaknya. Tahun kemarin Ajo tamat SD. Nilainya lumayan, dan dia bersemangat untuk terus sekolah. Tapi sayang, SMP terdekat jauhnya 20 kilometer dari rumah mereka. Rubiah tidak punya biaya untuk menyekolahkan Ajo. Kalaupun ada, ongkos pulang-perginya pasti tidak sedikit. Ke sana harus naik rakit menyeberangi sungai. Di dekat lepau Mak Uniang di pinggir sungai memang ada tukang ojek. Ajo bisa saja naik ojek itu pulang-pergi ke sekolah, tapi tentu saja tidak gratis. Bisa saja Ajo disuruh jalan kaki ke sekolahnya, tapi Rubiah tak sampai hati. Pernah Ajo minta dibelikan sepeda, tapi uang abak si Ajo tak pernah cukup.
Rustam, abak si Ajo, pulang sekali sepekan. Dia kerja sebagai tukang perabot di Lubuk Alung. Gajinya memang tak banyak, tapi dia suami yang baik. Pekan lampau, Rustam pulang membawa sebuah kabar mengejutkan.

"Ada yang mau membiayai sekolah Ajo," katanya.

Rubiah senang campur kaget. "Siapa? Pak Zul?" tanyanya. Pak Zul adalah pemilik bengkel perabot tempat Rustam bekerja. Selama ini, bos Rustam itu baik pada mereka.

"Bukan. Uni Salimah."

Wajah Rubiah langsung mengkerut. Wanita yang semasa gadis sangat manis itu, langsung merajuk. Diletakkannya gelas berisi kopi di atas meja, lantas pergi ke kamar mengambil Rumi yang tiba-tiba menangis. Dia lalu duduk di sudut dapur, menyusui Rumi. Wajahnya gelisah dan resah.

Salimah dulunya adalah kakak ipar Rustam. Sejak dua tahun lalu, wanita itu ditinggal mati Gazali, kakak sulung Rustam. Selama 30 tahun menikah, mereka tak dikaruniai anak. Sejak Gazali meninggal, Salimah menjanda dan tinggal sendiri di rumahnya yang besar. Dia punya sawah dan ladang yang luas, tapi tak punya sanak-saudara kontan. Salimah memang anak tunggal. Di usianya yang mendekati 50 tahun, Salimah tidak ada yang menjaga dan mengurus.

"Pasti Uni minta syarat itu lagi, kan?" tanya Rubiah. Matanya tertuju pada Rumi.
Rustam melepas desah. Dia seruput kopi enak buatan istrinya.

"Dia tak pernah meminta, Biah. Uda saja yang merasa ini kewajiban kita. Uda ingat pesan Uda Gazali dulu, untuk menjaga dan merawat Uni, kalau beliau sudah tiada. Walau Uda Gazali tak pernah secara langsung meminta, tak enak rasanya melihat Uni Salimah hidup sebatang kara seperti sekarang. Kalau dia sakit-sakitan, siapa yang akan mengurus?"

"Halah, itu kan cuma alasan Uda saja. Uda saja yang gatal mau menikah dengan wanita yang lebih kaya."

Rustam kembali mendesah. Kali ini dia bangkit dan mendekati Rubiah di sudut dapur. Dipandangnya mata istrinya dalam-dalam.

"Bukan, Biah. Uda tak pernah berpikir soal harta. Sama sekali tidak. Kalau soal nafsu, apa enaknya menikah dengan nenek-nenek seperti Uni Salimah?" sahut Rustam. Dia berhenti sejenak menunggu istrinya menatapnya.

"Tadi pagi Mak Baro datang ke bengkel. Dia sengaja datang ke Lubuk Alung untuk ketemu Uda."

Rubiah menoleh. Mak Baro adalah seorang kakek tua yang masih saudara jauh Salimah. Usianya sudah 70 tahun. Mak Baro juga dekat dengan keluarga mereka terutama dengan Rubiah. Di masa lampau, Mak Baro banyak membantu mendiang ayah Rubiah di masa-masa sulit. Dulu Mak Baro pula yang menjodohkan Salimah dengan Gazali.
Rubiah mengangkat wajahnya.

"Apa kata Mak Baro, Da?"

Rustam diam seolah menunggu sesuatu. "Mak Baro minta Uda menikahi Uni Salimah," katanya akhirnya.

Rubiah tampak benar-benar terkejut. "Lalu, apa jawab Uda?"

"Uda bilang, ini bukan soal yang mudah. Uda mau pikirkan dulu matang-matang dan bicara denganmu. Kata Mak Baro, dia sudah mencari ke mana-mana orang yang mau menikahi Uni Salimah, tapi tak dapat-dapat. Kalaupun ada yang mau, itu pun yang cuma mau harta Uni saja."

Rubiah bangkit, pergi ke kamar meletakkan Rumi yang sudah tertidur lagi. Dia kembali sambil menatap wajah suaminya dengan sungguh-sungguh.

"Uda salat istikharah saja dulu. Serahkan semuanya pada Allah. Semoga hari Senin Uda sudah dapat keputusan yang baik." Rubiah lantas masuk ke kamarnya.

***

Pagi Senin, Rustam berpamitan pada anak dan istrinya untuk kembali ke Lubuk Alung. Subuh-subuh dia sudah menyampaikan keputusannya pada Rubiah. Rubiah menangis beberapa lama, tapi ketika hari semakin terang dia sudah bisa tersenyum kembali. Rubiah tentu saja cemburu suaminya akan menikah lagi, tapi dia lega Rustam menikahi wanita yang mereka semua hormati dan sayangi.

Pagi Senin Rustam berangkat ke Lubuk Alung. Selasa pagi dia menelepon Mak Baro menyampaikan keputusannya. Rabu siang, sepulang sekolah, Ajo mulai mengasah ladingnya.

***

Jumat siang itu Ajo tidak ke mana-mana. Padahal biasanya dia bermain di sungai bersama kawan-kawannya. Sejak pulang salat Jumat, anak itu hanya sibuk mengurus ayam-ayam miliknya yang tidak banyak di belakang rumah.

Seperti Jumat-Jumat sebelumnya, siang itu Rubiah pergi mengaji ke kampung sebelah. Hari itu ustad dari Padang yang mengisi pengajian. Jadi, dengan membawa serta Rumi, Rubiah pamit pada Ajo.

Hari itu hujan turun dengan lebatnya.

Rubiah terlambat sampai di rumah. Biasanya dia sampai di rumah pukul setengah empat sore. Tapi hari itu azan magrib sudah terdengar waktu dia sampai di halaman rumah.

Rumah mereka kosong. Lampu-lampu belum menyala. Ke mana Ajo dan abaknya? Seharusnya Rustam sudah pulang dari tadi siang. Atau barangkali juga terhalang hujan? pikir Rubiah.

Rubiah membuka pintu. Baru saja pintu terkuak, wanita itu kaget setengah mati. Rasa takutnya menjadi-jadi. "Ya, Allah ..." desisnya bergetar. Teringat dia kenapa Ajo tidak pergi bermain seperti biasa siang tadi. Pastilah anak itu sengaja mau menunggu abaknya pulang untuk kemudian membuat perhitungan seperti yang dikatakannya.

Di tengah ruangan, walaupun agak gelap, dilihatnya Ajo berdiri dengan lading di tangannya. Dari lading itu menetes-netes darah merah pekat. Darah itu mengotori lantai semen rumah mereka.

Beribu bayang menakutkan memenuhi kepala Rubiah. Apa yang telah dilakukan Ajo? Jadikah dia mendabih abaknya? Di mana Rustam sekarang? Apakah Rustam sudah mati digorok anaknya sendiri?

"Ajo, apa ... apa yang sudah kau buat, Nak?" Rubiah merintih. Rumi di pangkuannya nyaris terbangun.

Ajo keluar dari bayang-bayang gelap dan muncul di hadapan amaknya. Wajahnya pucat. Lading di tangannya jatuh ke lantai. Darah berceceran di tangannya.

"Aku ... aku ..." Suara Ajo patah-patah.

"Kau kenapa? Apa yang sudah kau buat pada abakmu?"

"Aku takut sendirian di rumah. Mana mati lampu pula. Mak ke mana saja?"

Lalu, mendadak Ajo tampak kaget. "Abak?" suaranya berubah. Dia seperti menyadari sesuatu.

"Ya, sudah kauapakan abakmu, Nak?" Rubiah nyaris menangis. Dia sudah menduga tak akan pernah bertemu suaminya lagi.

Ajo tiba-tiba tertawa. "Wah, Mak ini sudah dibisiki setan, rupanya," ucapnya. "Aku tak mungkin lah mendabih abakku sendiri, Mak. Aku kemarin cuma menakut-nakuti Abak saja. Percayalah. Lagi pula sudah selesai masalahnya," ujar Ajo santai.

"Lalu di mana abakmu? Dan, darah di ladingmu itu?"

Ajo terkekeh-kekeh.

"Abak sekarang ada di rumah Pak Lurah. Abak pulang waktu Mak pergi ngaji. Abak sudah cerita padaku tentang Mak Tuo Salimah. Kalau Mak Tuo yang jadi ibuku, aku tidak keberatan. Aku kan sayang sama Mak Tuo!"

Sebentar Rubiah merasa lega. Alhamdulillah, setelah dirinya, sekarang anaknya yang menyetujui Rustam menikah lagi.

"Lalu darah itu?" tanya Rubiah lagi.

"Karena bulan depan aku mau masuk sekolah, Abak mau mengadakan syukuran kecil-kecilan. Abak menyuruhku mendabih tiga ekor ayam kita. Sekarang Abak lagi keliling untuk memberi tahu para tetangga untuk datang syukuran di rumah kita besok siang."

Rubiah tak berkata-kata lagi. Segera dia menghidupkan lampu dan beranjak ke dapur. Ia harus siap-siap untuk menyambut suaminya.[]
20/12/06

No comments: