Friday, July 31, 2009

Sungai


(Buletin PKPU, Juni 2009)

Lelaki itu sampai saat senja mulai terbit dari arah barat. Sisa-sisa cahaya matahari menukik tajam menerpa punggungnya yang setengah bungkuk, mengukir bayang-bayang setengah badannya di air sungai yang cokelat. Ketika matanya yang suram melihat ke air yang mengalir perlahan, dia melihat bayang-bayang dirinya bercampur dengan bebayang ilalang tinggi di belakangnya, yang berkesiur dan bergerak ditiup angin. Ilalang tinggi itu membuatnya merasa terlindungi. Keberadaan ilalang itu melenyapkan bentuk setengah badannya dari dada sampai ke bawah. Sehingga, selain dia sendiri dan Tuhannya Yang Mahakuasa, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di tangannya tergolek Sunni. Mayat Sunni.

Lelaki itu menatap sungai berjarak tiga langkah di hadapannya. Kemudian dia menatap wajah anaknya Sunni. Sunni yang manis. Sunni yang baik. Sunni yang telah pergi untuk selama-lamanya.

***

“Siapa namanya?”

“Yono.”

“Yono apa, Bu? Yono saja?”

Wajah di depan Meisha mengangguk. Meisha menggerakkan ujung pulpennya di atas buku notes kecil bergambar Hello Kitty.

“Ibu Parni tahu apa yang terjadi dengan Sunni, anak Pak Yono?”
Wanita di depan Meisha menggeleng. Bu Parni berumur 34 tahun. Itu menurut pengakuannya pada Meisha. Wajahnya yang kusam bekas terbakar matahari, tertutup oleh secarik kain mirip selendang yang warna aslinya tak jelas lagi. Mereka duduk di pojok sebuah gubuk kardus, yang dibangun di tengah lautan sampah di lokasi pembuangan akhir, di pinggiran kota Jakarta. Pemulung-pemulung yang lain bergerombol di pinggir gubuk memerhatikan wanita itu diwawancarai Meisha.

“Saya tidak tahu persis, Mbak. Yang saya dengar, Sunni itu muntah-muntah setelah ikut imunisasi polio di kelurahan...” akhirnya Bu Parni bicara juga.

Meisha menelengkan kepalanya. Tertarik. Soalnya belakangan memang banyak anak-anak balita yang herannya jatuh sakit bahkan meninggal dunia setelah diberi vaksin polio. Meisha merasa miris.

Meisha mencatat, lalu menggaris bawahi kata yang barusan ditulisnya. “Apa yang terjadi kemudian? Apa yang dilakukan Pak Yono?”

Mereka saling berpandangan.

“Yono membawa Sunni ke puskesmas dekat pasar. Namun Pak Dokter di sana bilang, Sunni tidak bisa dirawat di sana, karena kata Pak Dokter, puskesmas itu tidak lengkap peralatannya.”

“Terus gimana, Bu? Pak Yono membawa Sunni ke mana?”

Wanita di depan Meisha menggeleng kuat-kuat. “Saya tidak tau, Mbak. Yang saya tahu kemudian Yono membawa anaknya itu ke rumah sakit.”

“Rumah sakit mana?” kejar Meisha.

Bu Parni menatap rekan-rekannya yang bergerombol di belakang Meisha.

“Rumah sakit Cipto, Mbak,” sahut seseorang. Meisha menoleh pada seorang pemuda ceking yang wajahnya menunjukkan kalau dia sedikit lebih tahu dari yang lain.

“Lalu setelah itu?”

Diam. Dengung suara bisik-bisik di sekitar Meisha tidak mengarah pada jawaban pertanyaannya.

“Kami tidak tahu, Mbak. Sejak membawa Sunni ke rumah sakit, Yono tidak pernah lagi kembali kemari.”
***

Yono mengikuti lelaki berseragam putih yang muncul dari balik pintu ruang perawatan. Ketika ia sampai di pintu, barulah ia sadar apa yang ingin diperlihatkan dokter itu padanya.

Ia melihat anaknya Sunni di ranjang, sedang terbaring. Sama sekali tak bergerak. Matanya tertutup. Seperti putri dalam cerita-cerita sinetron. Tapi Yono tahu Sunni bukan seorang putri.

“Maaf, Pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Bapak harus tabah dan tawakal.” Sang dokter berbisik, kemudian meninggalkannya sendirian di sana.

Yono terduduk di lantai. Ia menangis. Hampir seluruh energi di tubuhnya mendadak lenyap. Ia menjadi lumpuh seketika.

Hari itu Sunni berumur empat tahun dua bulan sebelas hari. Seminggu yang lalu Sunni diimunisasi di kelurahan. Dua hari setelah itu Sunni demam panas dan muntah-muntah.

Yono meraih tubuh kecil Sunni, menutup tubuh anaknya dengan secarik kain batik lusuh, lalu membawanya pergi.
***

“Saya tidak tahu, Mbak. Maaf saya sedang sibuk.”

Meisha menarik napas kecewa ketika dokter di depannya berbalik kemudian berlalu dari hadapannya. Benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. Sebelum bertemu dokter itu, Meisha sudah berhadapan dengan birokrasi yang rumit dan mengada-ada. Padahal ia hanya ingin mencari informasi tentang Sunni dan ayahnya, Yono. Dari sang dokter ia mendapat jawaban kalau Sunni tak terselamatkan lagi. Pertanyaan berikutnya adalah, di mana mereka sekarang atau kalau tidak, ke manakah mereka pergi?

“Maaf, Mbak, saya tidak tahu,” sahut seorang pegawai rumah sakit. Padahal dia berjaga di ruangan tempat Sunni dirawat.

“Seharusnya Anda tahu,” ketus Meisha, lalu pergi. Ketika ia bertanya pada seorang petugas kebersihan, ia mendapat informasi yang lebih menjanjikan. “Lelaki berbaju lusuh itu? Dua jam yang lalu ia pergi sambil menggendong mayat anaknya.”
Meisha berhenti bernapas.

“Bapak tahu mereka pergi ke mana?”

“Tidak, Mbak. Saya tidak tahu.”
***

Yono menjejakkan kakinya ke air sungai yang dingin. Langit sudah gelap dan dari kejauhan terdengar suara azan bersahut-sahutan. Perlahan-lahan Yono merunduk dan sesosok tubuh yang ada dipangkuannya mencecah air sungai yang cokelat.

“Maafkan Bapak ya, Nak,” isak Yono.

Yono melepas genggamannya. Sunni yang terbalut selimut, perhalan-lahan hanyut dibawa arus sungai. Perlahan-lahan, gulungan itu menjauh sampai hilang dari pandangan.

Beberapa detik kemudian, sebuah cahaya melintas di kepala Yono. Beberapa detik pula jantung lelaki itu serasa berhenti berdetak. Yono yang mendadak sadar, cepat-cepat melompat ke air dan mencoba mengejar mayat Sunni.

Tapi Sunni telah jauh. Sungai itu cukup deras, dan Yono kehilangan jejak. Lelaki itu kembali ke tepi, merayap di pinggiran sungai, dan menangis di sana.

“Maaf, Pak. Kalau tidak ada dananya, ya tidak bisa. Sekarang semuanya kan butuh uang.”

Masih terngiang di kepala Yono kata-kata itu. Kata-kata yang diucapkan lelaki penjaga pemakaman umum, tempat dia membawa mayat Sunni siang tadi.[]

No comments: