Friday, July 31, 2009

Rumah



(Majalah Keadilan Bogor, 1 Maret 2009)

AKU belum sempat menurunkan kaki samping motorku ketika tiba-tiba Niel muncul dari balik pintu yang mendadak terbuka. Wajahnya ceria. Melihat air mukanya yang bercahaya, aku tahu istriku itu pasti menyimpan sebuah berita gembira. Niel selalu begitu. Paling tidak mampu menyimpan perasaannya. Apa pun yang ada di hatinya, tecermin langsung di wajahnya yang bulat indah.

Aku masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, segelas teh manis sudah menanti di atas meja. Niel mengambil tasku dan menaruhnya di dalam kamar. Aku melonggarkan ikatan dasi di leherku lalu duduk di depan meja, lalu menenggak teh manisku. Niel muncul dari kamar, duduk di depanku dan tampak tak sabar menunggu aku selesai minum.

“Ayah?”
“Ya?”
“Nanti malam sibuk, nggak?”
“Tidak. Kenapa?”

Niel tidak langsung menjawab. Bibirnya merekah kian lebar. Bola matanya bersinar cerah, dan pipinya memerah.

“Mbak Endah tadi telepon. Katanya Pak Haji mau menjual salah satu rumahnya di Jagakarsa. Kalau Ayah tidak sibuk, kita bisa melihat-lihatnya malam ini. Pak Haji katanya tidak sibuk. Coba Ayah bayangkan. Luas tanahnya 250. Luas bangunan 200. Pak Haji mau jual 350 juta saja. Sudah ada yang menawar 250, tapi tak dilepas. Kalau kita bisa membujuk Pak Haji, rumah itu pasti...”
***

Rumah.

Ya, itulah topik terhangat di rumah kami sejak beberapa minggu ini. Dan semuanya dimulai dari saat kedatangan kakak tertua Niel, Uda Faisal, yang mau liburan sekeluarga di Jakarta, dua bulan yang lalu. Di samping senang didatangi kakak, kakak ipar, dan para ponakan, istri saya panik luar biasa.

“Mereka mau tidur di mana?” kata Niel cemas waktu itu.

Saya dan Niel sudah tinggal di rumah kami sendiri, sebuah rumah tipe 36 yang cuma punya satu kamar. Walaupun kecil, tapi cukuplah untuk berdua, lagi pula kami belum dikaruniai anak. Beberapa kali Niel kecewa tidak jadi membeli mebel yang dia sukai, gara-gara tidak ada lagi tempat menaruhnya di rumah. Kalau untuk berdua, kami masih leluasa untuk bergerak. Tapi kalau ditambah 5 orang tamu, yang akan menginap selama seminggu yang seorang di antaranya bocah umur 4 tahun yang rewel, apa masih bisa leluasa?

“Ya, terpaksa kita berdua tidur di ruang tamu. Kan bisa gelar kasur cadangan di sana. Uda, Uni dan anak-anak kita suruh tidur di dalam,” kataku memberi solusi. Walau begitu, Niel tetap tampak gelisah. Lalu...

“Kita harus cari rumah yang lebih besar, Yah, yang bisa nampung banyak orang. Kita kan keluarga besar. Tiap tahun pasti akan ada keluarga yang ke Jakarta. Ya, keluarga Ayah, ya, keluarga Bunda. Lagian, dari dulu, kan Bunda udah bilang kita butuh seorang pembantu, biar kerjaan Bunda di rumah lebih ringan.”

Aku mencoba tersenyum. Beli rumah bukan persoalan gampang. Butuh dana yang tidak sedikit. Lagi pula, kami sudah punya rumah, walaupun masih kecil seperti ini. Tapi, alih-alih membantah, aku malah menjawab tantangan Niel.

“Iya, deh. Rumah ini nanti kita jual lagi, setelah itu cari rumah yang lebih gede,” sahutku. Tapi Niel tampak punya skenario lain.

“Jangan dijual, Yah. Sayang, kan? Ini kita sewain aja, itung-itung investasi buat masa depan kita.”

Aku tersenyum kemudian mengangguk. Niel langsung memelukku.

Tapi persoalannya bukan sekadar mencari rumah yang cocok. Karena tidak punya dana kes, kami harus meminjam dari bank. Dan, sekarang-sekarang ini bunga bank lagi tinggi. Tapi melihat semangat Niel mencari info rumah dijual di Internet sampai larut malam, membuat saya tak tega mematahkan semangatnya. Melihat kondisi keuangan kami, permintaan Niel membeli rumah seharga 300 juta, masih realistis. Kami sama-sama bekerja, dan masih ada tambahan di sana-sini, terutama dari studio foto yang sudah kami rintis sejak setahun yang lalu. Paling tidak, kami punya tabungan yang cukup untuk membayar DP rumah bila ada bank yang meloloskan permintaan kami.

***

Pak Haji Imran, saya, dan Niel duduk di ruang tamu rumah Pak Haji Imran. Pak Haji, begitu kami biasa memanggil beliau, sudah kami kenal sejak lama. Dulu, sebelum kami punya rumah sendiri, kami mengontrak di salah satu rumah milik Pak Haji. Waktu kami membeli rumah kami yang sekarang ini, Pak Haji juga yang merekomendasikan dan membantu menawar harganya. Sekarang, Pak Haji mau menjual salah satu rumah yang biasa dia sewakan. Untuk biaya nikah cucunya, katanya.

“Jadi, gimana, nih?” tanya Pak Haji, menatap Niel dan saya bergantian. “Kalau kalian berdua udah mantap, Pak Haji akan cabut plang dijualnya.”

Niel dan saya tersenyum. “Bisa kurang dikit lagi, nggak Pak Haji? Soalnya dana kita benar-benar ngepas, nih, Pak, ” kata saya, nyaris merayu. Kami memang sudah dekat dengan Pak Haji dan keluarganya. Kami berdua sudah seperti anak sendiri.

Pak Haji tersenyum. Melepas kopiah putihnya, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Agak lama orang tua itu berpikir, mungkin sedang memencet-mencet tombol kalkulator di kepalanya.

“Iya, deh. Dua ratus sembilan puluh, deh! Itu udah mepet banget. Bapak nggak bisa kurang lagi dari segitu, soalnya udah murah banget segitu mah,” akhirnya Pak Haji menjawab.

Aku menoleh pada Niel. Aku memberi tanda lewat kedipan mata. Niel mengangguk. Dari tawaran Pak Haji yang awalnya 350 juta, paling tidak kami sudah lumayan berhasil menekan harga. Lagi pula, rumah setipe dengan lingkungan yang sama, memang sudah di atas 300 juta harganya.

“Baik, Pak Haji. Kami setuju,” sahutku cepat. “Kami akan segera urus bank-nya. Mungkin dalam minggu ini juga akan ada orang bank yang akan survey ke sini.”

“Baguslah,” timpal Pak Haji.

Pertemuan sore itu selesai dengan cepat. Sampai di rumah, Niel tampak sangat gembira. Istriku itu langsung mengabari ibunya di kampung bahwa mereka akan segera pindah ke rumah yang baru. Aku sendiri, besoknya mulai mengurus semua urusan ke bank. Pihak bank meninjau rumah Pak Haji dan menyatakan bahwa mereka akan segera memberi jawaban sambil mempelajari berkas-berkas yang kami masukkan.

Selama seminggu Niel nyaris dilanda demam susah tidur. Tiap sebentar, dia melihat kembali foto-foto rumah Pak Haji yang kami simpan di notebook; ruang demi ruang dipelototi lagi, Niel menunjuk-nunjuk foto itu sambil berkata, “Yah, ini ruang tidur utama. Ranjangnya di sini, lemarinya di sini. Trus, kalo di dapur, Bunda mau beli kitchen set yang kita lihat kemarin itu, kayaknya cocok dengan warna cat yang sekarang. Atau kalau kita mau ganti warna putih juga gak apa-apa...”

Semangat Niel untuk segera pindah ke rumah yang baru mengalahkan segalanya. Sampai-sampai aku tidak percaya apa yang terjadi beberapa hari kemudian.

Siang itu aku sedang di tengah-tengah meeting di kantor ketika hapeku bergetar. Aku tidak mengenal nomor yang memanggil, jadi kubiarkan saja. Tapi selang beberapa detik, panggilan itu kembali datang, dan kali ini tak putus-putus sampai tiga kali. Kupikir, orang yang menelepon ini ngotot sekali ingin bicara denganku. Jadi, aku keluar dari ruangan dan menerima panggilan itu.

“Hallo?”

Beberapa detik pertama, aku tidak mengenal suara di ujung sana, tapi kemudian aku ingat siapa pemilik suara itu.

“Bang Deny? Apa kabar?” tanyaku senang.

Bang Deny adalah mentorku di zaman kuliah dulu. Kami dulu sama-sama berjuang menggerakkan kegiatan masjid di kampus. Sudah lama aku tak mendengar kabar dari Bang Deny. Kami terakhir kali bertemu saat aku menikah dulu, dan itu berarti sudah enam tahun yang lalu.

Bang Deny menceritakan banyak hal tentang kegiatannya sekarang. Lalu, di tengah pembicaraan, dia mengungkapkan maksudnya meneleponku.

“Saya butuh bantuan, Im,” katanya dengan nada suara rendah. “Anak saya mengalami kecelakaan kemarin. Fathan luka parah, dan harus segera dioperasi. Saya butuh dana cukup banyak. Kalau-kalau kamu punya simpanan, mungkin saya boleh menggunakannya terlebih dahulu.”

Bang Deny mau meminjam uang sebesar dua puluh lima juta. Saya terdiam. Banyak hal yang berkelebat dalam kepala saya. Saya ingat Niel di rumah. Saya ingat rumah Pak Haji yang mau kami tempati minggu ini. Saya ingat jumlah uang di deposito kami yang harus segera kami cairkan untuk membayar uang muka pembelian rumah itu.
***

Saya sudah menduga reaksi Niel ketika mendengar ceritaku soal Bang Deny. Hitungannya sudah jelas: kalau permintaan Bang Deny dipenuhi, otomatis kami belum bisa mendapatkan rumah Pak Haji. Uang muka pasti akan tersedot sebagian dan semua rencana akan batal. Padahal aku tahu, Niel sudah lama mengidam-idamkannya.

Hampir semalaman Niel menimbang-nimbang. Aku sendiri juga sebenarnya tidak tega melihat dia bersedih. Tapi saat ini, ada yang lebih membutuhkan dana ketimbang kami.

Sebelum subuh, Niel terbangun dan memelukku dari belakang. Dia cuma mengucapkan satu kalimat yang membuat aku yakin bahwa Allah telah memilihkan istri yang benar-benar baik buatku.

“Yah, kita bantu Bang Deny, ya. Semoga Allah mengganti semua ini dengan yang lebih baik...”[]

Jakarta, 4 Februari 2009

No comments: