Friday, July 31, 2009

Malam Terakhir



[Majalah Sabili, edisi 23/XVI, Juni 2009]

TANPA pengawalan petugas―dan itu atas permintaannya sendiri―Ben menyusuri koridor penjara dengan langkah tenang. Udara di koridor terasa dingin. Ben tidak yakin apakah kondisi fisiknya sedang kurang fit, atau memang di malam hari udara dalam penjara terasa lebih dingin? Jangan-jangan dirinya memang sudah renta.

Dari sel-sel di kiri-kanannya, Ben mendengar suara-suara orang berbicara, atau tertawa. Di depan sebuah sel, Ben mendengar teriakan, “Hei, Bung! Bagi rokok!” Ben tidak berhenti. Dia meneruskan langkah. Sebuah kotak korek api melayang ke arah Ben. Kotak itu meluncur cepat tapi tidak mengenai Ben. Kotak itu meluncur ke arah sel di seberangnya dan menghantam jeruji, abu rokok yang ada di dalamnya berhamburan keluar. Penghuni sel yang dimasuki kotak itu terusik dan melempar caci-maki, dan keributan lalu menjalar ke sel-sel lain.

Ben bergeming. Dia terus melangkah dengan mantap. Ketika sampai di depan sel nomor delapan belas, Ben berdiri sejenak sebelum melongokkan kepalanya melihat ke dalam sel. Saat matanya berhasil melihat penghuni sel, Ben mendadak merasa tidak nyaman.

Ben bertubuh tinggi dengan sedikit lemak di bawah dagu. Wajahnya kebapakan dan matanya sayu. Dia memelihara jenggot dan karena ekspresi wajahnya agak datar dia sering dikira lembek di ruang pengadilan. Ben adalah tipe prajurit yang suka bertempur dalam diam, dingin, dan mematikan. Di antara pengacara papan atas negeri ini, dia sangat disegani, selain karena sering secara mengejutkan memenangkan kasus-kasus besar, juga karena ia sangat selektif memilih klien. Seorang kepala daerah salah satu provinsi di bagian timur negeri ini, pernah dibuatnya kecewa. Ben menolak mewakili sang gubernur dalam sangkaan kasus korupsi bernilai miliaran rupiah. Ketika dibentak-bentak asisten pribadi sang gubernur, Ben hanya berkata, “Katakan pada tuanmu, saya menolak bukan karena tidak tertarik pada uangnya. Terus terang saya hanya menerima kasus-kasus besar dan menantang.” Sejak saat itu, Ben makin disegani. Dia sebenarnya bisa kaya raya dengan menjadi kuasa hukum para koruptor. Atau mendampingi selebritis yang sibuk mengangkat popularitas dengan kasus kawin-cerai mereka. Tapi dia tak mau. Ben bukan pengacara gampangan. Ben pernah memenangkan sebuah kasus yang menjadi sorotan publik tanpa dibayar sepeser pun, karena kliennya bukan dari kalangan yang mampu. Umur Ben sekarang sudah 60 tahun, tapi belum berniat pensiun. Tiga anaknya masih membutuhkan biaya besar dan dia membina sebuah yayasan sosial yang digerakkan sebagian besar dengan uang dari kantongnya sendiri.

Siang tadi Ben menerima sebuah surat dari Kejaksaan Agung, yang harus disampaikannya malam ini juga kepada Dhaka, lelaki muda yang sekarang ada di depan matanya. Karena surat itulah Ben tidak punya alasan untuk bergembira sedikit pun malam ini. Karena itu pula―dan baru sekarang disadarinya―dia merasa badannya menggigil ketika memasuki penjara ini.

Dhaka dikurung dalam sel ukuran 3 x 3 meter, sama dengan semua sel lainnya. Sel yang sempit, seperti kamar kecil. Cuma saja, sel Dhaka tidak menggunakan jeruji, tapi sebuah pintu baja tebal dengan sebuah jendela kecil seukuran penggaris yang cuma cukup untuk menempatkan mata. Dhaka dikurung dalam sebuah sel tersendiri, yang disediakan khusus untuk narapidana dengan kejahatan tingkat pertama.

Sel itu hanya dilengkapi sebuah tempat tidur besi, yang keempat kakinya dicor ke lantai, sebuah toilet dengan penutup dan sebuah meja kayu sederhana berikut kursinya. Saat Ben mengedarkan pandangannya ke dalam sel, Dhaka sedang duduk di kursi itu, sedang membaca buku. Ketika melihat Ben datang, pemuda itu meninggalkan bukunya dan mendekati pintu. Ketika bicara, mereka tidak bisa melihat satu sama lain, karena terhalang pintu.

“Ada surat dari Kejaksaan Agung,” Ben bicara hampir berbisik. Suara tuanya teredam di lantai dan hilang di dinding koridor yang dingin.

“Pasti surat kematianku,” ujar Dhaka. Nada suaranya datar, tanpa tendensi.

Ben mendesah. “Maafkan saya. Saya sangat menyesal.”

”Tidak apa-apa. Ini sudah takdir saya, Pak Ben,” sahut Dhaka.

Suara yang didengar Ben seharusnya tidak seperti itu. Anehnya, Ben ingin mendengar Dhaka menjerit atau menangis atau berteriak-teriak. Namun, suara Dhaka tetap datar dan terdengar biasa.

“Seharusnya saya bisa membebaskanmu.”

“Begitulah semestinya. Tapi saya katakan, ini sudah menjadi takdir saya, Pak Ben.”

Ben meringis. Dia menyukai anak muda di depannya. Keras dan penuh pendirian. Betapapun keji kejahatan yang pernah dilakukannya, pasti bukan terbit dari jiwanya yang terdalam. Dari sekian banyak kasus yang pernah ditangani Ben, baru kali ini Ben benar-benar dibuat putus harapan.

“Mereka akan melakukannya besok malam, Nak.”

“Begitulah seharusnya,” sahut Dhaka.

Buku-buku tangan Ben mengeras. “Kau tidak takut?”

Ben melihat Dhaka tersenyum. “Setelah keluarga saya dibantai, menurut Bapak, apa masih ada yang perlu saya takutkan?”

Itu benar. Ben mengakuinya.

“Pak Ben ... Saya merasa, ini akan jadi pertemuan terakhir kita. Sebelum saya mati, saya ingin menyampaikan sebuah permohonan, maukah Bapak membantu saya?”

Ben tersedak. Dia sadar, guncangan yang sedang dialami pemuda itu malam ini tidaklah kecil. Bila dalam keadaan seperti itu Dhaka mengajukan sebuah permintaan, pasti bukan permintaan biasa. Itu mungkin akan jadi permintaan terakhir.

“Saya siap melakukan apa saja.”

“Tapi ini tidak mudah, Pak Ben.”

“Saya akan coba semampu saya.”

“Bapak boleh ambil sedikit lagi dari aset saya sebagai bonus...”

“Tidak usah, Dhaka. Saya tidak butuh imbalan apa pun lagi darimu. Bayaran saya sudah lebih dari cukup. Saya akan penuhi permintaanmu. Ayo, katakan saja.”

Koridor itu belum hening sepenuhnya. Masih terdengar suara-suara dari koridor. Tapi menunggu seseorang mengucapkan permintaan terakhir sebelum ajalnya tiba, membuat suasana menjadi lengang dan sangat sunyi bagi Ben.

“Bila sudah memungkinkan, bawalah mayat saya ke kampung halaman saya dan tolong kuburkan saya di samping Ayah, Ibu, dan adik-adik saya,” Dhaka meminta. Keduanya terdiam beberapa saat. Permintaan yang berat. “Baiklah,” sahut Ben cepat.

“Terima kasih, Pak Ben.”

Ingin rasanya Ben menangis. Ingin rasanya dia memeluk orang muda itu. Selama berbulan-bulan persidangan, Ben mendapati Dhaka adalah manusia yang sangat tegar. Belum pernah dia jumpain manusia setegar itu seumur hidupnya. Dhaka pasti tidak butuh belas kasihannya.
***

Dhaka menyerahkan diri kepada pihak berwajib sehari setelah dia mendapat kepastian dari rumah sakit bahwa Letkol (Purn.) Aditiawarman tak tertolong lagi. Lelaki 63 tahun itu meninggal dunia di rumah sakit akibat geger otak yang dialaminya. Dua malam sebelumnya, Dhaka dan Letkol (Purn.) Aditiawarman—disaksikan puluhan penonton—melakukan duel pertarungan di atas ring tinju. Pertarungan itu dilakukan atas rasa suka sama suka dari kedua belah pihak.

Tak lama kemudian publik dikejutkan oleh pernyataan Dhaka—yang kemudian dirilis oleh media massa secara besar-besaran—bahwa pertarungan itu sengaja dia rencanakan untuk membuat Letkol (Purn.) Aditiawarman terbunuh. Dhaka menyatakan bahwa dia telah merencanakan pertarungan itu sejak beberapa tahun yang lalu. Ketika ditanya apa motifnya, publik kian terkaget-kaget. Dhaka, dengan data yang kuat, menyatakan Aditiawarman telah membantai ayah, ibu, dan adik perempuannya dalam sebuah penyerbuan bersenjata di malam buta di rumah Dhaka, di Aceh, dua puluh tiga tahun yang lalu. Ketika ditanya wartawan tentang motif penyerbuan itu, Dhaka menjawab tangkas, “Sebagaimana penyerbuan-penyerbuan bersenjata lainnya di seluruh ranah Aceh pada masa itu, pembantaian terhadap keluarga saya juga tidak pernah diungkit dan diselidiki. Lagi pula saat itu saya masih 12 tahun.”

Publik terbelah menjadi dua menanggapi kasus Dhaka. Sebagian besar publik bersimpati dan kembali menuntut agar rezim yang berkuasa saat itu diseret ke meja hijau. Sebagian kecil lain, menganggap apa yang dilakukan Dhaka tidak pantas, karena darah dibalas darah tetap tak patut dianggap perbuatan yang terpuji.

Setelah berbulan-bulan membantu Dhaka dalam persidangan, Ben gagal membebaskan Dhaka dari tuduhan kejahatan tingkat pertama. Hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas Dhaka.

Prosesi eksekusi mati Dhaka oleh pengadilan menjadi sorotan publik. Setelah menguburkan jasad Dhaka di samping makam ayah, ibu, dan adiknya, Ben Adriansyah menyatakan diri pensiun sebagai pengacara. Karena sebatangkara, Dhaka mewariskan seluruh harta dan kekayaannya kepada yayasan sosial yang dikelola Ben.

Dari kedekatan yang terbangun selama berbulan-bulan masa persidangan, hanya satu hal yang tidak diceritakan Dhaka kepada Ben. Fakta itu adalah... sebelum Aditiawarman menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit, Dhaka duduk di sebelah Aditiawarman dan menuntun lelaki tua itu mengucapkan dua kalimat syahadat.[]

No comments: