Friday, June 13, 2008

Tragedi Nadra

TRAGEDI NADRA
Drama Mengharukan tentang Perebutan Anak dan
Cinta Seorang Ibu

Penulis: Isa Kamari
Penyunting: Melvi Yendra
Penerbit: Hikmah Publishing House (Mizan Group)


Peristiwa berdarah, tragedi antarbangsa yang mengatasnamakan agama itu terjadi pada 11-13 Desember 1950 di Singapura dalam bentuk kerusuhan dahsyat. 18 orang terbunuh, 173 orang luka parah. Pemicunya adalah Nadra. Gadis 13 tahun yang diperebutkan hak asuhnya ini menjadi isu internasional, bahkan sampai saat ini.

Nadra, bernama asli Maria Hertogh, adalah gadis Belanda. Ibunya, Adeline, yang tak mampu membiayainya saat dia berusia lima tahun, memberikannya kepada Aminah, perempuan Melayu yang banyak membantu keluarga mereka dan tak bisa memiliki anak sendiri. Bahkan, Adeline telah mengizinkan Maria diasuh secara Islam.

Tumbuhlah Maria sebagai Nadra, gadis yang meski berparas Eropa, memiliki sifat dan kebiasaan seorang muslimah Melayu. Dia memiliki kehidupan yang tenang dan bahagia ketika orangtua kandungnya mencarinya, ingin mengklaim hak asuh atasnya kembali. Saat itu, di usia tiga belas tahun, Nadra yang baru saja menikah dengan pria pujaan hatinya, diperebutkan. Sidang demi sidang di pengadilan Singapura memicu banyak pihak bersimpati. Tragedi dua keluarga menjadi tragedi bangsa yang membawa nama budaya dan agama. Siapakah yang sebenarnyaberhak dan lebih mencintai Nadra, ibu kandungnya ataukah ibu angkatnya?

“Kekuatan agama, harga diri bangsa, dan semangat kemerdekaan menjadi latar, yang mencengkeram jiwa, dalam kisah Nadra. Ditambah pula, pertarungan di persidangan, yang berusaha memisahkan Nadra dengan suami dan ibu angkatnya. Peristiwa yang terjadi setelah masa Perang Dunia II di Singapura ini telah dilukiskan dengan sangat halus dan hidup oleh penulis. Seolah-olah, kita berada dalam cerita dan ikut merasakan perasaan orang-orang yang menyayangi Nadra.”
—Prof. Dr. Nik Abdul Aziz, Universitas Kebangsaan Malaysia

“Rasakanlah halusnya jiwa Nadra dan kasih sayang orangtua kandungnya, yang akhirnya membawa luka. Sudah seharusnya, nilai agama dan nilai bangsa tidak boleh dijualbelikan.”
—Aie, Novelis Grafis Malaysia

“Sebuah pertarungan budaya dan agama yang kesannya masih terasa hingga saat ini. Meskipun sudah berlalu dalam beberapa dekade, kisah Nadra tetap terpahat rapi dalam lipatan sejarah bangsa.”
—Prof. Madya Nor Anita M. M Nordin, Pemenang Hadiah Bahasa Malaysia

“Novel sejarah Atas Nama Cinta karya Isa Kamari ini akan membuka dan mendobrak pikiran kita semua akan arti cinta, pengorbanan, dan kemanusiaan yang sejati. Atas Nama Cinta berusaha menjadi novel simbol genre sejarah dalam dunia sastra Melayu.”
—Razak Ismail, sastrawan Singapura

“Kali ini, dengan lahirnya novel Atas Nama Cinta, saya membayangkannya sebagai sebuah pembulatan tekad dari seorang sastrawan, yang telah membuktikan kedudukannya sebagai novelis sejati.”
—Roslie Sidik, cerpenis Singapura

“Kisah Nadra telah disampaikan dengan bahasa yang halus dan jelas. Bahasanya membuai jiwa dengan rasa sedih dan kesal. Semoga bangsa Melayu di seluruh Nusantara dapat mengambil pelajaran darinya….”
—Yang Berbahagia, Haji Zakarrya Adam, Sekretaris Negara Kementerian Agama dan Kepercayaan Kamboja

1 comment:

mohammad said...

Novel yang sangat mengharukan!
javid tercengang ada peristiwa eperti itu, apalagi cimahi sangat dekat dengan kota tempat javid dilahirkan.
Namun javid sangat kecewa dengan akhir cerita yang sangat mengganggu perasaan itu. Javid jadi sangat penasaran tentang akhir hidup dari Nadra-javid tetap ga mau menyebutnya maria,
apa dia masih hidup?
apa dia masih memeluk agama islam?
bagaimana keadaan aminah?
serta sodaranya soewaldi yang tinggal di jawa...
Ah....Putih....
semoga Alloh swt. menjaga imanmu,
meskipun itu hanya seberkas dzarah saja,
tak apa,
karena itu jua yang akan menyelamatkanmu di akhirat kelak.
Amin.